Saturday, April 19, 2008

Launching Buku Persembahan Cinta di Acara Pesta Buku & Pendidikan Minangkabau 2008

Start:     May 3, '08 1:00p
End:     May 3, '08 4:00p
Location:     Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang
Kumpulan tulisan dari penulis yang berdomisili di Mancanegara telah dirajut indah menjadi sebuah buku berjudul "Persembahan Cinta (Jendela, Zikrul Hakim, 2008)". Jangan lewatkan acara launching buku ini, di Padang Kota Tercinta...
Ada juga Bedah Buku: Getar Asa Negeri Sakura (FLP Jepang, Zikrul Hakim, 2007) oleh FLP Sumbar...

Monday, April 14, 2008

Persembahan Cinta-ku




Alhamdulillah, salah satu tulisanku di multiply kembali terbit dalam bentuk buku. Kalau sebelumnya di buku Getar Asa Negeri Sakura (GANS) (FLP Jepang, Zikrul, 2007), kali ini lewat rajutan karya 30 penulis dari mancanegara yang oleh Pipiet Senja dipadukan dalam bentuk Persembahan Cinta (FLP, Jendela, 2008). Semoga bermanfaat bagi pembaca...
Rencananya neeh, Persembahan Cinta akan di Launcing di Padang, tunggu berita selanjutnya ya...

Monday, April 7, 2008

Menggapai Masa Depan yang Lebih Pasti dan Pengabdian Tanpa Batas

Mendekati pukul 24.00 WIB pada Sabtu Malam 29 Maret 2008, akhirnya tugasku sebagai host di acara Melepas Dosen Purnabakti Jurusan Biologi 2008 berakhir. Oies, seorang alumni yang lebih muda melanjutkan tugasku dengan acara Kesenian dan Keakraban yang tampaknya dibawakan dengan baik dan berpengalaman. Ia berhasil mengundang Rektor UNAND, Prof Musliar Kasim untuk naik kembali ke Panggung dan menyumbangkan suara emasnya. Tak ketinggalan, dengan gaya pembawa acara livebshow yang sedang ngetop di televisi, empat dari lima dosen purnabakti pun didaulat sebagai Juri, menilai penampilan olah vokal Bapak Rektor dengan gaya khas masing-masing. Sorak sorai pun membahana, meningkahi komentar setiap juri.

Aku mendekati Bapak Yohanes Allen, alumni Biologi yang saat ini menjadi dosen di Jurusann  Farmasi, untuk mengambil gadis kecilku yang ketiduran di pangkuan beliau. Anak baik, sejak awal acara ia dengan tenang ikut duduk lesehan diantara hadirin, sampai akhirnya jatuh tertidur karena hari memang sudah beranjak tengah malam. Sebuah pengertian yang besar dari seorang anak untuk mamanya yang sedang bertugas. Terimakasih cinta...

Walaupun jadwal pasti tentang penyelenggaraan perhelatan akbar Jurusan Biologi ini baru diperoleh tiga minggu terakhir dan undangan baru disebar seminggu sebelum hari H,  diluar perkiraan, peserta Kuliah Lapangan Umum (KLU) dan undangan yang hadir untuk melepas dosen purnabakti membludak. Diperkirakan sebagian besar Keluarga Besar Jurusan Biologi, berikut para undangan dari rektorat, dekanat dan Jurusan lain di FMIPA (Dekan dengan aparatnya, Rektor beserta Ibu dan para Pembantu Rektor, para pejabat dan mantan pejabat fakultas dan rektorat), karyawan administrasi, mahasiswa dari berbagai angkatan yang sejak pagi harinya melakukan kuliah lapangan dan alumni mahasiswa dari generasi tertua sampai termuda, sebagian membawa pasangan atau anak-anak bahkan bayi, semuanya tumpah ruah di Medan nan Bapaneh Minang Village, sebuah area khusus yang sangat sesuai untuk acara kebersamaan. Ada yang duduk di tribun, yang lain duduk lesehan dibawah tenda dimana tikar telah dibentangkan, dan masih banyak pula yang berdiri disamping kiri dan kanan panggung, penuh antusias. Setiap orang tanpa dikomando telah melingkarkan selendang segitiga berwarna hijau mengkilat yang bertuliskan KLU dan Melepas Dosen Purnabakti Jurusan Biologi ke leher masing-masing, menyatukan hadirin ke dalam suasana khas kegiatan lapangan.

Acara pemutaran movie file Profil Jurusan Biologi yang berjudul ”Menggapai Masa Depan yang Lebih Pasti” adalah gebrakan pertama setelah sambutan dari Panitia dan Ketua Jurusan. Lampu dimatikan. Film berdurasi 12 menit dan disutradarai oleh salah seorang alumni, Tandri Eka Putra, menggunakan teknik pengambilan gambar yang profesional dan backgroud musik yang dinamis sehingga nuansa keindahan kehidupan kampus Jurusan Biologi benar-benar muncul dihadapan hadirin. Sound systempun mendukung. Menyaksikan film ini, semua hadirin, terutama keluarga besar biologi dibuat bangga dan bersyukur, karena telah berada dan menjadi bagian sebuah komunitas yang komit terhadap ilmu, sibuk karena berbagai kegiatan kuliah, praktikum, penelitian, kemahasiswaan dan pembinaan, namun semua orang enjoy dengan segala aktifitasnya. Kuliah lapangan adalah salah satu ciri khas Jurusan Biologi UNAND, dimana pendalaman materi dan nuansa ”kebersamaan” diantara sesama mahasiswa dan antara mahasiswa dengan dosen lebih ”nyata” mengalir. Digambarkan tentang tersedianya 13 Laboratorium, Hutan Penelitian Biologi, Arboretum, ditunjang pula dengan berbagai fasilitas terkini di perpustakaan dan laboratorium komputer plus koneksi internetnya yang dapat diakses oleh setiap mahasiswa, sehingga harapan untuk menggapai masa depan yang gemilang semakin jelas di depan mata. Aplaus yang diberikan hadirin pertanda takjub dan sukacita terdengar hampir di setiap perubahan adegan. Aku melirik Abenk, panggilan akrab sang sutradara yang duduk berjongkok dipinggir pentas. Ia tersenyum penuh arti dan aku bersyukur, segala perjuangan dan ketegangan  sebelum film ini bisa selesai seolah terbayar lunas, melihat reaksi hadirin yang luarbiasa.

 Profil Biologi ini diakhiri dengan cuplikan komentar Wakil Gubernur Sumatera Barat Prof. Marlis Rahman, sebagai alumni Jurusan Biologi, tentang betapa beruntung dan berpotensinya Jurusan Biologi dan lulusannya sebagai aset bangsa, karena Ilmu Biologi dapat diaplikasikan pada berbagai bidang lainnya, seperti Pertanian, Peternakan, Kesehatan, Lingkungan bahkan Hukum, Perbankan, Social, Seni, dan lain sebagainya. Yang diperlukan dilapangan adalah kreatifitas dan kemampuan mengaplikasikannya. Lalu dengan latar lagu dari Peterpan; Semua tentang Kita , hadirin disuguhi running messages, yang cuplikannya sbb;

 

........

Jurusan Biologi lahir pada tahun 1962 sebagai salah satu Jurusan Ilmu pasti dan Ilmu Alam Universitas Andalas.

Pada tahun 1981 Jurusan Jurusan Biologi Pindah ke Ulu Gadut setelah menempati kampus Air Tawar selama 10 tahun.

Di kampus Ulu Gadut ini Jurusan Biologi mulai berbenah. Berbagai Kerjasama di Jalin dengan lembaga asing dan universitas terkemuka di dalam dan diluar negeri .

Sejak saat itu, setapak demi setapak Jurusan Biologi UNAND mulai mengukuhkan dirinya menjadi salah satu Jurusan terbaik dan diperhitungkan di negeri ini.

Setelah 40 tahun menjadi bagian dari Universitas Andalas, saat ini Jurusan Biologi telah menjelma menjadi Jurusan pavorit yang dituju oleh calon mahasiswa untuk mencapai masa depan yang lebih pasti, seperti yang telah ditunjukkan oleh ribuan alumninya.

 

Copyright Jurusan Biologi

........

 

Kembali, tak terbendung, tepuk tangan membahana di seantero Medan Nan Bapaneh...

 

 Penampilan dari vokal group Himabio yang  sempat menjadi juara I pada lomba Folk Song MIPA 2006 menambah segar suasana hati para hadirin untuk kemudian melangkah ke acara utama, yaitu Melepas Dosen Purna Bakti yang bertema, ”Bapisah Bukannyo Bacarai, Basamo Untuak Kedjayaan Bangsa”. Bagian ini kembali diisi dengan pemutaran film. Kali ini mengenai kelima dosen purnabakti yang juga merupakan tokoh dan perintis Jurusan Biologi UNAND. Pada bagian awal dari film berjudul ”Pengabdian Tanpa Batas” yang didedikasikan khusus bagi Drs. Rusjdi Tamin (Taksonomi Tumbuhan), Prof. Drs. Anas Salsabila, MSc (Taksonomi Hewan Vertebrata, Ornitologi), Drs. Hamru (Genetika), Drs. Jafnir (Fisiologi dan Anatomi Hewan), Prof . Dr. Marlis Rahman, MSc (Ekologi Tumbuhan) tersebut, hadirin diperkenalkan dengan FIPIA yang berdiri pada tahun 1962, yang merupakan cikal bakal Jurusan Biologi. Satu persatu, kelima dosen purnabakti (termasuk Prof. Marlis Rahman yang sedang menunaikan umrah dan tak berhadir pada malam ini) memberikan kesan dan kenangannya tentang proses-proses awal berdirinya Jurusan, lengkap dengan penampilan foto disana sini sebagai pendukung. Ternyata banyak informasi tentang sejarah Jurusan  Biologi yang diperoleh dengan menonton tayangan ini. Selanjutnya , masih di film ini, secara berurutan dosen purnabakti menuturkan alasan mereka memilih bidang Biologi untuk belajar, memilihnya sebagai profesi, keinginan dan harapan terhadap Jurusan Biologi, dan rencana kegiatan setelah memasuki purnabakti. Semuanya ditampilkan secara menarik dan hampir dapat dipastikan bahwa mata penonton tidak beranjak dari layar monitor. Apalagi didalam tayangan ini juga terdapat komentar mahasiswa atau dosen tentang para dosen purnabakti. Tepuk tangan pun tak henti-hentinya meningkahi sesi-sesi pemutaran movie yang berdurasi 32 menit ini. Ada banyak tawa ketika melihat cuplikan foto dengan adegan lucu atau foto para dosen disaat muda, banyak pula momen yang menimbulkan keharuan. Rasa haru tak tertahankan misalnya melihat adegan salah seorang dosen yang digambarkan sedang penutup pintu ruang kerjanya lalu dengan gerakan sangat pelan (ditambah pula dengan effect  slow motion) berjalan menuju pintu koridor Jurusan, berjalan semakin lama semakin jauh. Atau ketika pengambilan gambar dengan zoom yang tepat, sehingga kerutan di jari atau mata yang berkaca-kaca saat bertutur tertangkap jelas oleh kamera. Film yang diawali dengan sejarah Jurusan biologi yang ternyata apada awalnya dulu kantornya dibuat sendiri pada bekas area parkir motor dan ruang belajarnya sangat terbatas dan kebanyakan dibangun dengan bergotong royongnya dosen dan mahasiswa, diakhiri dengan memperlihatkan kondisi biologi saat ini yang telah menjadi Jurusan berfasilitas lengkap dan dikenal secara Nasional maupun Internasional.Secara keseluruhan, film ini membuat hadirin semakin mengenal ke lima lelaki dengan langkah-langkah luarbiasanya, yang sejak awal acara tadi dipersilahkan untuk duduk diatas kursi khusus, yang berjajar disamping kanan depan, berhadapan dengan layar monitor dimana film tengah diputar.  

            Setelah kesan dan kenangan dari Dekan dan Rektor, Dosen purnabakti berkenan menerima kenang-kenangan berupa cincin emas bertuliskan nama beliau masing-masing dan Bio-UA dari Jurusan Biologi yang penyerahannya dilakukan Rektor, Dekan, Ketua Jurusan dan Ketua Ikatan Alumni FMIPA. Suasana haru kembali menyergap, ketika penyerahan kenang-kenangan ini dilatarbelakangi oleh alunan suara serunai yang menggigit dan pembacaan puisi penuh penghayatan, kolaborasi dosen (M. Najri J) dan mahasiswa (Taufik dan Emil).

           

Cintamu adalah memberi

            Cintamu adalah inspirasi

            Cintamu menghangatkan hati

            Satu dalam kasih, menggapai Ridha Ilahi

 

Semoga segala baktimu

Ayahanda kami

Senantiasa menyebar wangi

Menghiasi catatanNya

Berkilau dihati

Anak negeri ini

Selalu

 

Bapisah Bukannyo Bacarai, Basamo untuak Kedjayaan Bangsa...

 

        Prof. Satni Eka Putra pun tak ketinggalan mempersembahkan sebuah puisi ciptaan sendiri bagi kelima rekan beliau. Puisi yang sarat kenangan dan semangat pengabdian. Setelahnya, tugasku sebagai pemandu acara ditutup dengan penampilan Lagu Minang  yang memukau......

 

 ”Hmmm.... mudah-mudahan semua orang puas dengan acara ini, terlepas dari beberapa kekurangan secara teknis yang terjadi”, aku membathin sambil menggendong gadis kecilku ke arah rumah bagonjong / rumah gadang Rajo Nan Babandiang  yang diperuntukkan sebagai penginapan bagi Dosen, karyawan dan alumni.

 

”Selamat Hen, acaranya OK punya, beda dari biasa, itu, profil jurusan, keren hlo..., film para dosen purnabakti juga!”, seru Pak Syaifullah, Sekretaris Jurusan, yang tenyata telah berada di rumah gadang tersebut bersama beberapa orang lainnya.

 

”Thanks Sir, Alhamdulillah kalau begitu, Selamat !”,  jawabku tersenyum lebar, hilang rasa lelahku karena harus menaiki tangga rumah gadang sambil menggendong gadisku yang tetap pulas.

 

Sayup-sayup, suara musik Gamaik terdengar ditelinga. Acara keakraban antara mahasiswa, alumni, dosen dan undangan tampaknya masih akan terus berlangsung, mungkin beberapa jam lagi, karena masih akan ada Indo Biologi Award 2008, yang akan mengumumkan hasil poling mahasiswa tentang dosen, mahasiswa dan asisten dalam berbagai katergori, lelang kue oleh Himabio, Sumbangan acara dari setiap leting dan alumni...

 

Padang Panjang, Dini hari, 30 Maret 2008

Henny Herwina Hanif

 

Wednesday, March 26, 2008

Bantuan peralatan untuk penelitian di Bidang Biodiversitas

http://www.ideawild.org/
Gampang! Hanya perlu proposal dengan satu resume berbahasa Inggris untuk riset bertema Biodiversitas, Konservasi dan Proyek Pendidikan Konservasi

Friday, March 7, 2008

Ketika Cinta Bertasbih (Dwilogi Pembangun Jiwa)

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Habiburrahman El Shirazy
Resensi: Ketika Cinta Bertasbih (Episode 1 dan 2)
Pengarang: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit: Republika-Basmala (2007)

Azzam adalah mahasiswa Al Azhar University Cairo yang kuliah sambil bekerja. Ia membuat dan menjual makanan tradisional Indonesia seperti bakso dan tempe demi menghidupi diri di negeri orang dan keluarganya di tanah air. Walaupun waktu selesai studinya menjadi panjang, tapi banyak hikmah yang diperolehnya dari situ, termasuk kedewasaan dalam berilmu, bersikap maupun berbisnis. Pengalaman hidup membuatnya tetap survive dan dapat mengembangkan wiraswasta ketika kembali ketanah air (Episode 1). Takdir membawanya pada puncak kebahagiaan ketika pada akhirnya ia dapat menikah dengan Anna Althafunnisa, muslimah dambaannya sejak kuliah. Hadirnya tokoh Furqan, Eliana dan Husna mempertajam kelebihan sang tokoh utama. Penulis dengan mahir menggambarkan masing-masing tokoh dengan karakter yang terarah, di dalam alur cerita yang jelas.

Seperti halnya pada Novel Ayat-Ayat Cinta, setting di Cairo (episode 1) maupun di Jawa (episode 2) hadir teramat apik. Suasana desa dan pesantren muncul hidup dan memikat, makanan, kondisi alam, digambarkan dengan alami dan indah.
Gizi dari novel ini yang langsung saya rasakan adalah adanya tambahan ilmu bermanfaat tentang bagaimana seorang perempuan dapat menyikapi poligami sebelum menikah (episode 2).Tokoh Anna dalam novel ini memberikan pernyataan sikapnya tentang poligami sejak ia dipinang Furqan, calon suami pertamanya. Dalam syarat nikahnya, ia mengusulkan agar tetap dibolehkan tinggal di rumah orang tua, dan tidak bersedia dipoligami selama ia masih sanggup menjalankan kewajibannya. Jika syaratnya diterima pernikahan dapat berjalan, jika tidak, peminang dipersilahkan mencari wanita lain yang mungkin tidak memberi syarat. Anna ingin seperti Khadijah yang menjadi satu-satunya istri Rasurullah semasa hidupnya. Kemandirian seorang perempuan yang berilmu dengan sangat manis diperankan tokoh Anna, sehingga kebenaran ucapannya tak bisa ditolak lagi. Pendapat dan syarat yang ia ajukan didukung oleh referensi Kitab apa yang ia pakai sebagai rujukan.

Yang berbeda dari novel sebelumnya, di dalam novel Ketika Cinta Bertasbih episode dua, terdapat beberapa kesalahan editan dan kesalahan pada susunan halaman. Adegan kemesraan dan hasrat suami isteri Azzam dan Anna yang disampaikan dengan cukup vulgar dibagian akhir sedikit mengganggu, karena tidak sejalan dengan keindahan dan ke-bersahajaan yang muncul sejak awal cerita.

Secara keseluruhan, novel ini sangat menginspirasi bagi pembacanya. Jadi, sayang untuk melewatkan begitu saja, jika ada kesempatan untuk membaca dan memiliki karya Kang Abik yang satu ini.

Friday, February 29, 2008

GORENG IKAN LADO HIJAU


Description:
Resep rumahan yang simpel, tapi amat membangkitkan selera, khususnya penggemar masakan Padang. Kalau Uda-san dimasakin menu ini, bisa diperkirakan akan nambah terus dan baru menyerah kalau memang perutnya sudah tak sanggup untuk menerima lagi :)
Ikan goreng lado hijau ini akan sangat nikmat dimakan dengan nasi yang asapnya mengepul, salad, sayur bening, atau terong yang direbus/diuapkan



Ingredients:
Ikan air tawar atau ikan laut, cabe hijau, minyak goreng secukupnya, garam, jeruk asam. Sebagai variasi rasa (penting), boleh digorengkan pula, petai, jengkol, atau paria

Directions:
Ikan tawar atau ikan laut digoreng kering seperti biasa. Beri variasi rasa dengan menggoreng juga petai, jengkol atau paria (salahsatunya saja) yang juga digoreng (biasanya digoreng sebelum ikannya).Cabe (lado kalau bahasa Minang, red) hijau di giling/blender kasar bersama bawang merah, lalu goreng dengan minyak bekas menggoreng ikan, tambahkan garam dan perasan jeruk asam. Campurkan semuanya, beres...siapa dihidangkan....hmmm ...oisshi......!

Thursday, February 14, 2008

Bunga dalam Vas Retak

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Ummu Syafiq
Novel anak dengan cover bernuansa hijau meneduhkan ini bercerita
tentang kehidupan seorang gadis kecil bernama Rara. Kedua
orangtuanya bercerai, dan ia ikut terkena imbasnya dalam keseharian.
Di sekolah, ia disebut sebagai anak broken home. Dua kata itu tetap
mengikutinya bahkan setelah ia pindah ke sekolah yang baru. Dalam
ketidaknyamanan dengan kondisi keluarga yang menjadi bahan ejekan
beberapa temannya dan juga adanya harapan agar kedua ortangtuanya
kembali bersatu, Rara belajar untuk menerima kenyataan hidupnya.

Meskipun ayah dan Ibunya tidak bersama lagi, Rara merasakan
bahwa ia senantiasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang
besar dari mereka. Ayahnya secara teratur selalu menelepon dan
memberikan perhatian pada perkembangannya yang tinggal hanya berdua
saja dengan ibunya. Suatu ketika, kesempatan untuk berlibur bersama
keluarga baru ayahnya membuat Rara lebih mengenal ibu tirinya
sebagai sosok ibu yang baik pula. Ia juga menjadi jatuh cinta pada
kedua adik kembarnya yang lucu. Rara semakin menyadari betapa
besarnya cinta sang ayah, ketika memperoleh hadiah untuk kenaikan
kelasnya berupa catatan harian. Di situ ayahnya telah menulis banyak
hal tentang dirinya yang ditulis semenjak ia masih bayi.

Walaupun belum mendapat penjelasan langsung dari ibunya tentang
alasan perpisahan mereka, diakhir cerita, Rara menemukan suatu
kesimpulan yang melegakannya. Bahwa ia adalah anak yang beruntung
karena dapat senantiasa menikmati besarnya kasih sayang dan
perhatian dari kedua orang tua dan keluarga besarnya. Untuk
mempertegas hal ini, kehadiran tokoh Rina, teman sekolah yang
sering menjadikan perceraian dan kesendirian ibu Rara sebagai bahan
untuk menyakiti Rara cukup mengena. Rina, dengan keluarga yang
lengkap, malah menjadi anak yang nakal dan tidak puas bila tak
menyakiti Rara atau teman lain yang ingin dekat dengan Rara. Takut
kenakalannya semakin tak terkendali, Rina dipindahkan oleh orang
tuanya ke sekolah berasrama.

Akhir ceritanya terkesan bisa ditebak ketika membaca bab-bab awal
di novel ini. Namun daya tarik untuk terus membacanya muncul seiring
dengan hadirnya dialog yang hidup dan alur yang terjaga dengan baik.
Setting Jakarta dan Bandung pun dengan nyaman ternikmati. Sedikit
komentar mengenai kondisi psikologis Rara,ia tampak telah jauh lebih
dewasa dari usianya (Rara baru naik kelas enam). Misalnya dengan
pengertian Rara yang teramat besar untuk selalu meyakinkan ibunya
bahwa ia tidak apa-apa meskipun teman-teman mengejek perceraian
ibunya,atau menuduh ibunya bersama seorang pria lain ketika ia
tinggalkan sendiri waktu berlibur. Bahkan Rara mampu untuk berfikir
amat bijaksana dengan berniat tidak akan memajang hadiah rajutan
dari ibu tirinya disembarang tempat agar ibu kandungnya tidak
melihat hadiah itu terlalu sering.Walaupun demikian, pergolakan
emosi yang dialaminya disekolah dapat dihadirkan dengan jelas oleh
penulis, sehingga menjadi cukup seimbang.

Ketika selesai membacanya, novel yang ditulis Ummu Syafiq atau
Aan Wulandari, yang juga adalah editor internal FLP Jepang untuk
buku kumpulan kisah mengandung hikmah; Getar Asa Negeri Sakura ini
membuat saya berdecak kagum. Tema yang sederhana, namun hadir sangat
komunikatif dan sarat dengan perenungan diri di banyak bagiannya.
Anak yang mengalami kasus perceraian orang tua dapat belajar untuk
menerima kenyataan dengan membaca novel ini. Pesan-pesan bagi orang
tuapun tak kalah serunya. Banyak hikmah yang tersirat sepanjang
cerita tanpa terkesan dipaksakan untuk ada. Akhirnya, saya pastikan
bahwa novel ini layak anda pilih sebagai salah satu bacaan bergizi
bagi anak maupun orang tua. Mba Aan, Ometedou Gozaimasu!

Penerbit : Mitra Bocah Muslim
Edisi : Desember 2007
Genre : Anak (7-12 tahun)
Halaman : 119 hal
Harga : Rp. 12.000,00