Sunday, July 26, 2009

Mama Mau Memaafkan bukan...?

”Mama...Jilan boleh main kerumah Nuri?” putri semata wayangnya meminta izin untuk kerumah tetangga sebelah yang punya anak tujuh tahunan sebaya dirinya.

 

”Boleh sayang, tapi sudah mesti pulang untuk shalat ashar ya... Setelah itu kita akan ke arisan...”, Lanisa mewanti-wanti anaknya.

 

”OK Maaa...mmuach...! Assalamualaikum...!” Jilan yang kesenangan segera menghambur keluar sambil membawa dua buah raket bulu tangkis mainan.

 

Tapi sampai Lanisa selesai shalat ashar dan siap berangkat, Jilan belum juga pulang ke rumah. Tampaknya ia lupa dengan janjinya. Akhirnya sambil memutuskan untuk pergi sendiri, Jilan yang masih asyik bermain bulu tangkis di rumah tetangga dipanggilnya, disuruh mandi dan shalat, lalu harus menunggu di rumah Nuri. Setelah terjadi kesepakatan, Lanisapun dengan tenang melangkah ke gang sebelah.

 

Sedang asyik-asyiknya bicara dengan para ibu sambil menikmati hidangan arisan, tiba-tiba putrinya Jilan datang menyusul bersama seorang temannya. Ia belum mandi seperti kesepakatan, penuh kotoran di baju dan basah oleh keringat. Penampilannya berantakan sekali, kontras dengan Lanisa ibunya yang rapi dan segar setelah mandi sore. Perasaan Lanisa kontan jadi kurang enak.

 

”Ma, semangka-ku manna?” ujarnya centil sambil melewati ibu-ibu yang lesehan menuju Lanisa.

 

”Sayang? Kok malah kesini? Kenapa belum mandi sepeti kesepakatan kita tadi?” suara Lanisa tertahan dan tak berdaya untuk merubah keadaan.

 

Sebenarnya aneh juga, baru kali ini Jilan menyusul segala begini. Biasanya ia bahkan tak mau diajak arisan dan lebih memilih bermain bersama teman daripada diajak ikut arisan yang baginya membosankan.

 

”Ini Naak..., silahkan diambil semangkanya...”, Bu Wit tuan rumah arisan kali ini mempersilahkan dengan ramah.

 

”Terima kasih Bu...dua boleh?”, ujar Lanisa tersenyum lebar sambil mengambil dua buah semangka lalu kembali melangkah keluar melewati ibu-ibu arisan yang keheranan.

 

Lanisa hanya mampu tersenyum sumbang dan menatap putrinya berlalu.

 

Acara arisan yang intinya silaturahmi itupun dilanjutkan. Obrolan dengan aneka tema sampai chek and  rechek aneka produk yang ditawarkan para ibu-ibu yang berbisnis rumahan sambil menunggu siapa yang terpilih untuk menjadi tuan rumah bulan depanpun berjalan lancar. Lanisa sempat usul agar ada sedikit sharing tentang keIslaman yang sempat di baca peserta untuk dibagi buat yang lain dalam setiap pertemuan. Namun belum beberapa menit berselang ketika putrinya muncul kembali.

 

”Ma semangkanya nambah ya.., ada teman lain yang belum dapat!” Jilan sudah kembali berdiri di pintu rumah Bu Wit, kali ini dengan sepasukan temannya.

 

”Aa..ggghhhh, Jilan! Kenapa balik lagi, dan kenapa teman-temannya diajak kesini?” Lanisa takjub dan bicara dengan suara yang ditahan menjadi rendah namun mata yang membulat. Ia merasa sangat tidak enak pada tuan rumah dan ibu-ibu yang lain. Hmmmmhhhh....

 

”Tak apa Bu Lanisa, ini anak-anak...  semangkanya masih banyak...! silahkan ambil saja...!” Bu Wit membagikan semangka yang telah terhidang.

 

Anak-anak yang kepanasan sehabis bemain itupun menyerbu semangka arisan ibu-ibu. Suaranya heboh bukan kepalang, berebut mendapatkan semangka paling duluan.

 

 ***

Sepanjang perjalanan pulang Lanisapun berpidatolah.

 

”Jilan, mama kan sudah mengatakan sejak siang, bahwa Jilan harus pulang saat shalat sehingga setelahnya bisa siap-siap agar kita bisa ke arisan bersama. Tapi Jilan tidak menepati janji untuk pulang pada waktunya sehingga yang bisa berangkat hanya mama. Itupun sudah kita sepakati kalau Jilan harus menunggu dengan manis di rumah Nuri setelah  mandi dan shalat sendiri di rumah. BENAR?”

 

”Benar Ma...”

 

”Lalu kenapa semuanya dilanggar dan Jilan bukannya mandi dan shalat, malah menyusul mama dengan badan dan pakaian yang sudah sangat kotor begitu. Trus kenapa juga... pakai acara bawa-bawa teman yang banyak tanpa izin siapapun dan minta semangka buat temannya! Aduh Jilan... Sudahlah  tidak menepati semua kesepakatan dengan mama, lalu ...bla bla bla...”, Lanisa berpidato semakin berapi.

 

”Jilan itu....bisa diberi pengertian nggak sih.... sebenarnya...?”

 

”Bisa Maa...”

 

”Jilan selalu saja bilang bisa..., iya..., baik..., atas apa yang mama katakan, tapi kenyataannya? Segera pula apa yang disepakati itu dilanggar lagi!”

 

”Nanti ndak lagi Ma...” Jilan menatap mamanya dengan wajah sangat menyesal.

 

Hati Lanisa melunak, terpengaruh tatapan putrinya yang bening. Namun kata-kata dari mulutnya kemudian masih saja berbau penyesalan.

 

”Tapi, tapi mama benar-benar tak habis pikir, kok bisanya... bla bla bla...”, Lanisa masih terus menyesali tindakan dan sikap putrinya. Akibatnya kepalanya mulai terasa berat. Semakin dibahas, semakin ia terbakar.

 

”Dan lagi...”

 

”Tapi Ma....”

 

”Tapi apa?"

 

”Tapi mama akan memaafkan Jilan kaaaan?” anaknya menatap Lanisa penuh harap.

 

Lanisa  terdiam. Tak menyangka pertanyaan Jilan akan seperti itu.

 

Ya Allah, aku begitu mencintainya mahkluk cantik yang Kau amanahkan padaku ini. Tentu saja aku memaafkannya.

 

Tapi bukan berarti aku tak boleh membahas hal ini kan? Lalu, walaupun akan dimaafkan, bukan berarti kesalahan yang sama boleh selalu diulang kan?

Ya Robbi, bimbing aku agar lebih sabar...

 

Kesalahanku jelas ada. Aku mungkin kurang tegas dan jelas dalam memberi instruksi dan membuat kesepakatan dengan putriku...

Mungkin karena tergesa aku telah berkata terlalu cepat sehingga tak mudah ditangkap olehnya. Bukankah bicara pada anak haruslah jelas dan dengan tempo yang sesuai?  Ah, begitu banyak kemungkinan.

 

Lanisa menatap lurus pada belahan hati yang tengah berharap maaf darinya. Betapa ia teramat menyayangi gadis itu. Wajah mungil itu begitu ingin berdamai. Lanisa tak berniat menyakitinya dengan kata, tapi beberapa saat yang lalu ia sempat begitu gusar dibuatnya. Dihembuskannya nafas panjang.

 

”Jilan..., mama tentu saja memaafkanmu sayang...  Maafin mama juga ya, kurang sabar dan tenang bicaranya...?”

 

Dan, pelukan sang permata yang melingkari pinggangnya setelah itu, begitu nyaman dirasakan Lanisa.

 

 

Monday, July 20, 2009

Mengintip Gedung Kementrian Putra Jaya




Dalam sebuah lawatan kerja ke Malaysia beberapa bulan berselang, bersama pimpinan dan rekan sekantor mendapat kesempatan berkunjung ke kompleks dan gedung Kementrian Malaysia. Menyenangkan bisa "mengintip" kantor Perdana Menteri, mengamati dan mengagumi bangunan yang khas, melihat bagian-bagian kantor bahkan view dari bagian teratas, dekat kubahnya gedung kementrian.

Monday, June 22, 2009

Kopdar Padang (mba Seri dari Nipon)

http://junjungbuih.multiply.com/photos/album/41/Kopdar_Padang_mba_Henny#
Alhamdulillah, bisa ketemuan di darat, sebelumnya cuman di milis dan mp

Semoga senantiasa terjalin silatuirahmi yang indah ya Mbak Seri..Amin...

Sunday, June 7, 2009

Hubungan Tugas Sekolah Anak dan Orang Tua

 

“Ma, tolong Jilan dipebanyak lagi porsi latihannya untuk tulisan tegak bersambung dan pemakaian huruf besarnya di rumah ya Ma… Disekolah Jilan sering  tak menyelesaikan PS dengan alasan susah dan capek…”, begitu isi sms dari Usatazah Mega.

 

“Hm..tampaknya ada masalah serius…” batinnya. Lanisa mengira-ngira di tengah rutinitas kerjanya yang padat. Ia adalah seorang wanita yang bekerja sebagai pengajar dan beberapa kegiatan terkait lainnya.

 

Lanisa gelisah. Ia yakin jika persoalan anaknya kali ini cukup serius. Jika perkara sederhana saja, ustadzahnya hanya perlu menuliskan pesan di buku penghubung orang tua dan guru yang selalu diperiksanya setiap hari. Baru kali ini ustazah Mega meng-sms-kan problem anaknya di sekolah. Ini berarti ustazahnya sudah hampir kehabisan akal mengarahkan Jilan.

 

”Jilan..., kenapa ya sayang....?”, Lanisa terus memikirkan anak perempuan semata wayangnya sambil jari-jarinya mulai menuliskan balasan sms untuk ustazah Mega.

 

”Ya Ustazah, baiklah, terima kasih...”, tulisnya sambil otaknya terus berputar-putar penuh tanya.

 

Hanya beberapa kata sederhana itu yang mampu ditulisnya karena ia sendiri tak habis pikir. Menurut pemikirannya, Jilan telah sering diberi pengertian tentang pentingnya segala bentuk proses belajar dan agar selalu patuh pada guru di sekolah. Berkomunikasi efektif versi tatap-menatap mata yang sering disarankan pakar komunikasipun telah dipraktekkan oleh Lanisa. Jilan biasanya berjanji akan menjadi lebih baik setelah percakapan mengenai sikapnya yang perlu dikoreksi. Tapi setelah itu, sikap santainya dapat segera kambuh lagi.

 

Yah, Jilan memang tak pernah dilaporkan telah mengganggu temannya atau melakukan kenakalan sejenis itu. Tapi kalau terlalu tak peduli dan santai, tentu bukanlah masalah ringan. Saking santainya Jilan, kalau ada teman yang mendapat hukuman dengan tidak boleh ikut belajar pada jam pelajaran tertentu, Jilan malah memilih ikut mendampingi temannya itu di luar kelas. Ah... Untuk kasus ini ustazahnyapun berkesimpulan, Jilan adalah anak yang punya rasa kesetiakawanan yang sangat tinggi, tapi salah tempat.

***

Dirumah, Lanisa masih terus kepikiran akan sms dari guru anaknya. Kalau melihat perkembangan aktifitasnnya, sejak balita Jilan memang lebih suka pada permainan atau kegiatan fisik. Ia seakan punya tenaga ekstra untuk aktifitas yang menantang olah tubuh. Berdiam diri terlalu lama di dalam ruangan membuatnya tak betah. Tapi sekarang ia sudah kelas 1 SD dan sifat ”mau yang enaknya saja” seharusnya tidak boleh dipertahankan. Ada aturan kegiatan sekolah yang harus pula diikuti.

 

Walaupun nilai rapor semester dan bulanan Jilan tergolong baik, Lanisa tak berhenti dilanda kebimbangan dengan perkembangan anaknya di sekolah. Dalam suatu diskusi langsung dengan wali kelas anaknya ketika menerima rapor bulanan beberapa waktu lalu, ia mendapat cerita bahwa Jilan terkesan merasa bangga kalau namanya termasuk di dalam ”daftar anak kudis (kurang displin) hari ini” yang ditulis guru di papan tulis.

 

***

 

”Pa, sepertinya mama telah mencoba mencari-cari penyebab keacuhan Jilan, tapi ndak ketemu juga...”, Lanisa mencoba berdiskusi dengan suaminya.

:

”Memangnya kenapa lagi?” suami Lanisa bertanya, sedangkan matanya masih pada koran yang tengah dibacanya.

 

”Yaa..., dia masih saja bersikap acuh dan tampak tak peduli kalau tidak menyelesaikan pekerjaan sekolah, sampai-sampai gurunya mengirim sms tadi! Kalo dipikir-pikir....mama-kan bukan tipe seperti itu dari kecil. Seingat mama, mama ini orangnya selalu patuh pada guru dan rajin mengerjakan tugas hlo... Jilan kok beda ya Pa?”.

 

”Jilan, papa bilang apa berkali-kali? Jangan bersikap acuh terhadap tugas dan perintah dari guru!..... Apalagi tidak menyelesaikan pekerjaan sekolah, tidak baik! Jilan akan sangat ketinggalan dari teman lainnya...!” suaminya menasehati anak mereka, alih-alih menjawab soal perbedaan Lanisa semasa kecil dengan anaknya.

 

”Iya Papa...”, Jilan yang tengah menonton acara kegemarannya di TV menoleh dan menjawab takzim. Tak ketinggalan pula wajahnya yang amat jelita menurut versi orangtuanya itu dihiasi dengan tatapan minta maaf yang meluluhkan hati. Jadinya Lanisa dan suaminya hanya mampu menatap prihatin pada putri mereka.

 

”Pa..., jangan-jangan... kelakukan anak kita ini ada unsur genetisnya hlo. Karena kalau upaya kita lebih kurang sudah cukup untuk pembinaan...Jangan-jangan dulu semasa sekolah, papa juga acuh dengan tugas dari guru...?” pancing Lanisa ketika mereka tinggal berdua di ruang keluarga.

 

”Woooo, kalo papa selalu menyelesaikan dan mengumpulkan tugas guru, nggak pernah nggaak laah..” jawab suaminya menonjolkan dada, senyumnya terkembang.

 

”Ah, yang benaar....? Waktu mama sekolah dulu, banyak sekali hlo... terutama anak laki-laki yang malas bikin tugas, apalagi prakarya dan sejenisnya....” kenang Lanisa sambil mengingat kalau ia sendiri selalu mendapat nilai tinggi karena selalu sungguh-sungguh mengerjakan tugas sekolah.

 

Lanisa menatap suaminya. Kali ini tatapannya lurus dan lama. Ia jadi semakin curiga, jangan-jangan memang sifat anaknya yang acuh dan santai itu diturunkan dari suaminya. Karena sikap dirinya ketika kecil ternyata tak membekas pada anaknya. Kalaupun benar, ia harus menerima kenyataan ini dengan lapang dada, dan tak berputus asa membimbing terus putrinya.

 

”Benar kok Ma!”, suaminya masih ngotot membela diri melihat Lanisa menatapnya terus.

 

”Ndak percaya! Wah iya...., sangat besar kemungkinannya sikap anak kita sekarang ini adalah turunan dari sifat dan sikap papa ketika sekolah dulu... Ayo ngaku ajaaaa! ” kejar Lanisa, semakin penasaran melihat gejala pembelaan diri suaminya.

 

”Ya...ndak tauuu....., tapi benar kok! Sungguh! Papa ini dulu selalu rajin mengumpulkan tugas....!”

 

”Yakiiin? Coba pikir lagi, ingat-ingat duluuu... Papa kan cerita sendiri waktu kecilnya dulu agak nakal, tetap saja suka mandi-mandi di sungai sembarang waktu walo sudah dilarang ortu... Katanya sampai kena hukum kurungan di dalam gudang beras segala...? Ayo.... ”, Lanisa menatap suaminya penuh arti.

 

”Yakin! Papa selalu mengumpulkan tugas, ndak pernah ndak! Tapi dulu itu...memang... kebanyakannya teman papa yang membuatkan...ehm...”

 

”NAH!, kaaaaaan...?

 

Dan bantalan kursipun berterbangan di rumah Lanisa.

           

Thursday, May 28, 2009

Menguji Wali Kelas

Ini hari yang istimewa bagiku karena ditugaskan sebagai penguji bagi wali kelasku ketika SMA dalam sebuah forum ilmiah.  Alhamdulillah Ibu Yulnetti, guru wali kelasku di SMA 1 Payakumbuh (1989-1991) berhasil menyelesaikan sidang akhir beliau dalam mempertahankan tesis untuk meraih gelar Master Sains di Program Studi Pasca Sarjana Biologi UNAND siang tadi. Meskipun statusku sebagai penguji kali ini, posisi itu tak sedikitpun mengurangi rasa hormat dan sayangku pada Bu Neti. Aku tetap mengagumi beliau sebagaimana seorang murid mengagumi dan menghormati gurunya. Apalagi, diusia yang tidak muda lagi, disaat anak-anak beliau telah remaja, dengan penuh semangat beliau masih mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkendara 2-3 jam antara Payakumbuh-Padang tak menyurutkan niat baiknya.

 

Bu Neti memang mengagumkan. Rasa percaya diri beliau yang tinggi  tampak jelas sekali. Tegar dan selalu penuh senyum. Meskipun beberapa pertanyaan penguji tak terjawab tuntas, beliau tidak serta merta menyerah. Bahkan, ketika pimpinan sidang mencoba “menggoda” beliau beberapa saat sebelum hasil sidang diumumkan dengan mempermainkan kata seolah-olah beliau harus “mengulang lagi mendaftar…”, Ibu Neti masih menjawab dengan senyum bahwa beliaupun telah siap dengan hasil seperti itu. Siap juga mencari dana lagi untuk perpanjangan studi jika diperlukan (selain mengajar sebagai guru SMA, beliau juga berwiraswasta, berjualan di pasar dengan mobil). Tak mempan digoda, ketua sidang terpaksa menerangkan bahwa Ibu Neti “diminta mengulang lagi mendaftar… untuk ikut upacara wisuda!” he he he.

 

Semua terharu ketika Ibu Neti memberikan kesan dan ucapan terima kasih beliau pada pembimbing dan penguji. Pada pernyataan terakhir, beliau berterima kasih pula atas support dariku sambil berlinangan air mata haru. Padahal sejujurnya, partisipasiku dalam pendidikan S2 beliau di labku nyaris tak ada, tertutupi oleh kesibukanku sendiri. Paling-paling jika sempat berbincang saat berjumpa dalam waktu-waktu yang sempit, materinya lebih kepada keluarga dan nostalgia. Walaupun begitu, dari percakapan kami yang jarang sekali itu aku semakin tahu bahwa Ibu Neti adalah sosok bunda jelita yang selalu membimbing dan mengajar muridnya dengan lembut namun tetap tegas dan disiplin. Beliau termasuk guru yang menentang “sikap galak” dalam membina murid. Ini saaangat…. cocok sekali denganku.

 

Aku memang tak melihat perlunya bersikap keras dan berlebihan agar mahasiswa atau murid menyegani dan patuh pada kita, seperti pendapat yang dipaksakan orang-orang tertentu padaku. Sebagaimana sikap lembut Bu Neti padaku di SMA 1 dulu, sebagaimana sikap pak Intan dan Pak Soelaksono yang begitu memberi kepercayaan dan harapan besar padaku saat di ITB, sebagaimana Pak Dahelmi pembimbing skripsiku  yang sangat yakin dan bangga pada kemampuan akademis dan prestasiku sejak aku masih S1, seperti itu pulalah aku memandang para mahasiswaku. Alih-alih bersikap galak dan seram, bagiku mahasiswa adalah sosok istimewa dan unik, yang perlu diajak bersahabat dan diberi kepercayaan bahwa mereka semua berpotensi dan punya harapan kedepan.

 

Berbekal sikap positif yang pernah aku terima dari para guru tercintaku selama ini termasuk Bu Neti, aku yakin sekali akan perlunya selalu bersikap positif terhadap orang lain. Sekali lagi kuingin mengucapkan selamat atas kelulusannya Bunda… Aku selalu bangga menjadi muridmu.

 

Padang, 28 Mei 2009

Saturday, May 23, 2009

Dijadikan tokoh fiksinya Fauzul Izmi (2)

     DOSEN MULTITALENTA (II)

       oleh: Fauzul Izmi

      

Ketika launching buku GANS (Getar Asa Negri Sakura) sekalian membedahnya beberapa bulan yang lalu di gedung Bagindo Aziz Chan Padang beliau jadi pembicaranya. Aku pun berusaha membantu mengangkatkan acara tersebut walaupun tidak maksimal.

 

Beliau terharu saat mengisahkan kehidupan sehari-hari mahasiswa muslim dan muslimah yang kuliah di Jepang. Beliau berusaha menggambarkan situasi orang muslim melaksanakan puasa, berjilbab, shalat ditengah ketidakpedulian orang Jepang terhadap agama. Sesaat kemudian beliau sesenggukan. Tak kuasa menahan tangis. Butiran bening itupun luruh menandakan betapa menggetarkan sekali kisah yang beliau alami. Setelah menghapusnya dengan sebuah sapu tangan, beliau kembali bercerita. Sementara hadirin semakin khusyuk mendengarkan. Sampai-sampai ada diantara mereka yang tak kuasa menahan tangis.

*  *  *

            Aku menemui beliau menjelang pergi Silnas FLP ke Jakarta. Ada harapan agar beliau membantu memasukkan proposal kami ke instansi yang ada. Maklum beliau lebih banyak punya link dengan perusahaan atau pihak-pihak terkait. Di daerah kami sungguh sulit sekali mendapatkan dana untuk kegiatan organisasi. Hanya beberapa instansi yang mau membantu dan itupun ada juga birokrasinya yang berbelit-belit dan memakan waktu yang lama sampai dana turun. Kalaupun ada itupun tidak membantu banyak. Kami harus merogoh kocek dalam-dalam dari kantong sendiri. Kesabaran sebagai penulis benar-benar ditempa.

            Handphoneku bergetar. Sebuah sms masuk. Dari Buk Henny rupanya. Segera kubuka.

            “Assw. Kapan jadinya pergi silnas FLP di Jakarta? Ibuk mau membantu tapi tidak banyak. Mungkin hanya bisa untuk jajan di jalan. Silahkan datang besok ke gedung Rektorat. Ibuk tunggu! Wass

            Membaca sms tersebut perasaanku tidak enak. Aku tidak ingin menyusahkan siapa-siapa. Tapi menolak pemberian itu juga bukan hal yang tepat. Pasti buk Henny akan kecewa, ujarku dalam hati. Setelah dipikir-pikir lagi karena dana yang juga kebetulan minim maka akupun memenuhi tawaran itu meski dengan hati yang gugup.

            Esoknya aku langsung berangkat ke kampus dan menemuinya. Setelah berbincang-bincang beberapa menit, ia menyerahkan sebuah amplop.

            “Ini sedikit dari Ibuk, jangan ditolak! Titip salam ya untuk teh Pipiet, mbak Helvy, Asma, FLP Jepang dan teman-teman FLP lainnya disana. Semoga acaranya sukses”, tambah beliau kemudian.

            Sekali lagi aku terharu dibuatnya. Meskipun isi amplop itu tidak banyak tapi bagiku sebagai mahasiswa sudah sangat membantu selama perjalananku ke Jakarta. Baru kali ini seorang dosen memberikanku uang secara percuma. Baru kali ini aku melihat potret perjuangan seorang wanita lebih dekat. Tak kenal menyerah sebelum menggapai apa yang dicita-citakannya. Itulah Buk Henny. Dosen serba bisa yang telah menginspirasiku untuk terus menempa diri.

                                                                                    

                                                                                                        21 Agustus 2008

                                                                                                        Pasar Baru, Padang

           

            

Fauzul Izmi kelahiran Bukittinggi, 23 November 1984. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Forum Lingkar Pena Sumatera Barat. Karya-karyanya sudah terbit di harian lokal Sumbar, majalah Islam SABILI, dan media kampus. Puisinya berjudul: Tadarus Hujan tergabung dalam Antologi Cerpen dan Puisi FLP Sumbar 2008. Selain itu pernah beberapa kali memenangkan lomba menulis tingkat daerah di kota Padang. Masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang. 

                                                             

                                                           (tamat)

Dijadikan tokoh fiksinya Fauzul Izmi (1)

Melalui email, Fauzul mengirimkan karyanya yang lolos seleksi saat diperuntukkan dalam antologi bertemakan ahkwat padaku. Dijelaskan bahwa karya ini fiksi dan jika ada kesamaan nama dan tempat memang disengaja he he.

 

Aku terheran-heran dengan kemampuannya mengumpulkan data, me-review kebelakang. Hal yang dilebih-lebihkan olehnya, membuatku tersenyum-senyum sendiri..

 

Terlepas dari semua itu, tulisannya memaksaku untuk lebih berinstrospeksi. Semoga Fauzul dan adik-adik FLP Sumbar terus berkibar menebar karya bermakna. Amin...

 

 

 

DOSEN MULTITALENTA (I)

                                                                                    Oleh: Fauzul Izmi

 

Panas mentari tak lagi mencucuk hingga ubun-ubun. Awan gelap menggumpal di langit. Biasanya seusai kuliah aku menyempatkan diri untuk selalu hadir dalam setiap diskusi FLP unit yang diadakan setiap hari rabu pukul 16.00 di kampus Unand, Limau Manis Padang. Kadang peserta yang hadir membludak. Kadang yang hadir tidak sampai lima orang.

 

Begitulah memang, selalu ada ujian yang datang terhadap organisasi kepenulisan ini. Meskipun begitu aku tidak ingin mengecewakan anggota FLP yang sudah bersusah payah pergi ke kampus untuk mengikuti diskusi rutin. Aku harus selalu datang karena sudah ditunjuk sebagai ketua unit kampus. Kalau aku tidak datang maka bisa dipastikan diskusi tidak akan jalan jika ikhwannya 1 orang dan akhwatnya 1 orang.

 

Segala upaya telah dilakukan untuk memberitahukan kepada mahasiswa agar mengikuti diskusi tersebut. Termasuk melalui sms, pamflet, dari mulut ke mulut, dan sebagainya. Sayang, hanya beberapa orang saja yang tetap konsisten. Yang lainnya jarang  datang dan ada pula yang mundur tanpa berita seolah-olah diskusi adalah suatu hal yang paling menakutkan bagi mahasiswa. Begitulah kebiasaan kami di kampus. Ketika yang lain pulang kuliah kami tetap mengisi waktu sampai sore dengan mendiskusikan karya-karya yang ada. Berharap dari tangan-tangan kami akan lahir karya-karya yang mencerahkan ummat.

*  *  *

            HP bututku menjerit beberapa kali. Lantunan ringtone Hai Mujahid Mudanya Izzis membangunkan tidur siangku. Sms Azwar masuk. Segera kubuka.

            “Assw. Akhi, ada dosen UNAND Padang yang dulunya bergabung dengan FLP Jepang. Namanya buk Henny. Silahkan dihubungi. Mudah-mudahan beliau mau jadi pembina kita. Salam".

            Beberapa saat kemudian kuterima nomor orang yang dimaksudkan. Segera kusimpan dalam memory card.

            “Assalamu’alaikum. Ini dengan Ibuk Henny?" tanyaku setengah gugup

            “Wa’alaikumsalam”

            “Ya saya sendiri. Ini siapa?” balasnya kemudian

             “Kami dari FLP Sumbar. Dapat nomor Ibuk dari Azwar. Beliau mengusulkan agar Ibuk menjadi pembina FLP Sumbar. Katanya Ibuk dulu tergabung dengan FLP Jepang. Bersediakah Ibuk jadi pembina kami?”

            Entah shock atau apa, terdengar suara helaan nafas dari seberang sana.

            “Salam kenal untuk rekan-rekan FLP Sumbar ya. Saya baru disini dan tidak pantas menjadi pembina. He-he. Banyak yang lebih dalam ilmunya dari saya yang hanya lulusan Eksakta dan tidak mendalami bidang sastra. Yang lain saja. Nanti saya akan silaturrahim dengan rekan-rekan FLP Sumbar”, ujarnya ramah.

            Sejak saat itu aku selalu mengajak beliau untuk mengikuti diskusi rutin FLP baik di unit kampus maupun di wilayah yang biasanya diadakan sekali dua minggu di taman budaya Sumatera Barat

            Gayungpun bersambut. Beliaupun berjanji akan datang dalam diskusi sekalian ingin berkenalan dengan keluarga besar FLP Sumbar. Dalam ta’aruf singkat bertempat di sebuah mushola di Taman Budaya Sumatera Barat aku mulai mengenal sosok itu. Henny Herwina Hanif. Itu nama lengkapnya. Lahir di kota Payakumbuh 35 tahun yang lalu. Kuliah di jurusan biologi Unand Padang tahun 1991. Kemudian melanjutkan S2 di ITB  dan S3 di sebuah Universitas Kanazawa Jepang. Aku pikir gelar beliau baru S1 atau S2. Sudah doktor ternyata. Dan hebatnya ketika lulus dari ITB IPKnya 3,83. Subhanallah!Puluhan peserta diskusi yang hadir waktu itu terkagum-kagum. Di akhir acara tersebut beliau menyerahkan buku berjudul Getar Asa Negri Sakura persembahan FLP Jepang.

            Aku belajar banyak dari beliau yang biasa kupanggil buk Henny. Aku belajar tentang kerja keras, keuletan, kesabaran, keikhlasan, pantang menyerah dan lain sebagainya yang terlihat dari sikapnya. Menurutku ini tidak berlebih-lebihan karena aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Ia adalah salah seorang akhwat yang mengabdikan hidupnya untuk orang banyak. Gigih berjuang dan terus menggali potensi yang dimiliki. Selain itu ia juga supel, dekat dengan siapapun apalagi dengan anak didiknya para mahasiswa.

            Aku juga belajar kesederhanaan dari seorang doktor yang sudah merasa puas dengan handphone bermerek Nokia 3315 itu. Takjub!Ya, aku sangat takjub padanya. Disamping seorang dosen dan Ibu rumah tangga, ia juga seorang penulis, asisten Pembantu Rektor Unand, penyiar, presenter, MC, pemain film( pernah berakting dengan Gusti Randa). Semuanya dilakoni. Itu baru profesi yang ku ketahui. Mungkin ada lagi profesi yang lainnya.

            Dengan kesibukan seperti itu beliau masih sempat untuk menulis dan menghasilkan goresan kata penuh hikmah dari setiap ujung jarinya. Beliau masih sempat menghasilkan tulisan untuk antologi kisah FLP Jepang berjudul Getar Asa Negri Sakura yang sangat mengharukan itu. Catatan cinta suami istri menyusul kemudian. Aku saja yang mengaku-ngaku sudah menulis di surat kabar harian daerah dan nasional sudah berbangga diri dengan prestasi kecil itu. Padahal masih banyak waktu yang kumiliki untuk mengasah kemampuan dan potensi diri yang ada untuk lebih baik lagi. 

                                             (bersambung)