Friday, January 13, 2006

Sayonara Tomodachi




Posting foto lama biar ada yg tertinggal, soalnya udah dua komputer yang dikerjain virus, semoga selamat walo hy sedikit ini.

Pesta perpisahan dari teman-teman di Kanazawa. Terima kasih banyak kawan, untuk menyiapkan semua itu, juga kenang-kenangan album dan pesan yang amat berharga bagi kami.
Love...
Hy-Uda-Jilannisa

Wednesday, November 30, 2005

Gebyar Cinta FLP Jepang 2005, bersama Mba Helvy dkk.

http://www.flpjepang.com/workshop/
Ada acara "Bakar Sate" dan acara menariknya lainnya juga hlo...
Pokoknya seru !
Masih bisa daftar sampai tengah malam ini, buruan.....

Thursday, October 6, 2005

Tuesday, October 4, 2005

Sajian Spesial dari FLP dan Radio Tarbiyah: "Pelangi Ramadhan"




Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

"...Mata saya basah, menyelami batin
Mimin. Tiba-tiba saya merasa syukur saya teramat dangkal dibandingkan
dengan nikmatNya selama ini. Rasa malu menyergap seluruh keberadaan
saya...(
dari Doa Yang Selalu Dikabulkan; Helvy Tiana Rosa)".

 

"Andai kamu tahu Keil...di jajaran
hari-hari itu beribu duka melesatkan serta mengombang-ambing aku dalam
perasaan bersalah telah meninggalkanmu dulu. Ada beribu andai
beterbangan mengintari kepalaku. Andai aku masih bisa membawamu
kembali...andai...(
dari Keil, Duka Itu; Arida Istiarti)".

 

 

Marhaban ya Ramadhan...

 

Sejumput sapa kami hadirkan

tuk temani anda

menapak titian hari

ke kesyahduan bulan yang suci ini

 

Selaksa kisah anak manusia

dengan berbagai goresan warna kehidupan

terangkum indah dalam untaian

"Pelangi Ramadhan"

 

 

Sebuah sajian spesial persembahan Forum Lingkar Pena Jepang

dan Forum Lingkar Pena Surabaya, bekerjasama dengan Radio Tarbiyah

 

Nantikan untaian hikmah yang menyejukkan jiwa !

 

di acara: "PELANGI RAMADHAN"

 

 

Setiap Hari !

mulai 1 Ramadhan 1426 H (5 Oktober 2005)

3 kali sehari pada kisaran waktu

03:30, 10:30 dan 16.30 JST atau 01:30, 08:30 dan 14.30 WIB

di Radio Tarbiyah (untuk mendengar klik  http://www.radiotarbiyah.net/listen.pls)

 

Jangan Lewatkan...

 

 

Untuk memberikan saran, kritikan, kesan atau usulan mengenai materi atau jam tayang acara ini, kami nantikan sapa anda di pelangi_ramadhan@yahoo.com

 

 

Tak lupa kami haturkan maaf lahir dan batin, semoga memasuki Ramadhan ini kita
diberi kebeningan hati dan keteguhan niat dalam meningkatkan ibadah
.

 

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

FLP Jepang





Saturday, October 1, 2005

Wisuda yang sepi di Kanazawa




Sebenarnya ini wisuda ke empat yang seharusnya kuikuti, tapi menjadi yang kedua, karena di tahun 1998 aku tak bisa ikut wisuda di ITB karena harus ke Jepang sehari sebelumnya. Lalu tahun 2001 tak bisa ikut wisuda di Univ Kanazawa, karena harus penelitian ke Indonesia hik hiks.

Kemaren, hampir 5 tahun setelah terpaksa bersikap tak peduli dengan hari wisuda, aku bela-belain ikutan, walaupun dengan persiapan teramat seadanya.

Karena 6 tahun yang lalu, aku pernah menyaksikan wisuda kelulusan seorang teman, aku tidak kaget kalau suasana wisuda di sini amat berbeda dengan di Indonesia.

Kalau di Indonesia, hampir seluruh keluarga terutama orang tua ingin ikut menyaksikan hari wisuda kita, kalau di Jepang, sangaaat.... jarang ada keluarga yang datang ke upacara. Maksudnya orang Jepang sendiri. Entahlah kalau di luar upacara...

Kalau mahasiswa asing sih, wajar saja, pikirku. Tapi pernah juga sih aku heran dan garuk-garuk kepala sendiri ketika bertanya pada seorang temanku, kenapa ia tak menghadiri wisuda suaminya di Kanazawa juga 6 th yang lalu itu. Doi malah balik heran, emangnya harus datang? hu hu hu, aku hanya bisa bingung, sudah ketularan kali ya...dah lama banget sih di Jepang doinya. Aku aja yang masih Ngindonesia mikirnya, bahkan sampe sekarang...tak ingin berubah ceritanya. Melihat binar bangga di mata orang tua, berbagi bahagia jika itu mungkin, kenapa tidak?

Wisuda yang kuikuti, pesertanya hanya lulusan S2 dan S3, otomatis menjadi lebih sepi lagi. Tapi toh kehikmadan, kebahagiaan dan keharuan tetap terasa. Bahkan ada teman yang keluarganya datang dari luar negeri khusus buat hari istimewa tersebut.

Untukku, hanya ada Uda, dan itu sudah lebih dari cukup :)
Alhamdulillah...

Wednesday, September 28, 2005

Meminta Mama pada Tuhan




Mencoba menerapkan doa baru setiap hari
pada anak, yang terinspirasi oleh kebiasaan seorang sahabat
yang kuanggap amat bagus, ternyata membutuhkan proses bertahap, tetapi tampaknya tidak
terlalu lama.

Awalnya anakku Jilannisa tak begitu saja menangkap apa yang kukatakan
tentang doa baru ini, juga pertanyaan pancingan yang kuberikan. Apalagi
aku harus terbata-bata mengarang kata yang tepat, mencocokkan dengan
bahasa Jepang yang sekarang masih lebih dimengerti olehnya. Tapi aku
tak bosan mengulang.

Akhir-akhir ini, setiap mau tidur, setelah
berdoa dan sambil rebahan aku selalu mencoba memancingnya untuk mengungkapkan
keinginan-keinginan, mengingatkan bahwa Tuhan akan selalu mendengar setiap doa
dan harapan. Setelah aku sendiri memberi contoh apa yang kuinginkan esok hari,
atau apa yang ingin kuminta dalam doa sebelum tidur, ia kelihatan mulai
terpancing.

“Hari ini dalam doa kita, Jilan mau minta
apa sama Tuhan?, tanyaku suatu malam sambil membayangkan ia akan meminta
hal-hal biasanya sangat diinginkannya, semacam mainan, es krim atau coklat
kesukaannya.

 “Etooo, Jilan wa, Tuhan ni, doa no naka
deeee
……..(mmm, Jilan, dalam doa, sama Tuhan mauuu….)”, matanya metatap
kelangit-langit kamar, berfikir dengan kepala agak dimiringkan ke kanan. Tangan
dan kakinya merapat memeluk boneka biru lembut berbentuk pingguin di atas perutnya. Ia
seperti bayi berukuran besar dimataku. Rasa cintaku mengalir, menggetarkanku.

“Ayo gadis…mau minta apa? Kalau kita selalu
berdoa dan mengingat Allah, Ia akan mendengar dan mengingat kita juga, dan
IsnyaAllah mengabulkannya. Sebab, Ia maha penyayang, sangat sayang pada
Jilan, mama, papa dan semua mahkluk-Nya…”, pancingku lagi, sambil membelai
rambutnya perlahan.

“Jilan mau minta mama sama Tuhan!”,
tiba-tiba ia berkata yakin. Senyumnya mengembang. Hatiku bersorak, gembira dan
bersyukur karena ini pertama kalinya ia mulai mengungkapkan keinginannya dalam
program doa baru setiap hari yang ingin aku terapkan ini.

“Mama?, kenapa gadis mau minta mama?”,
kataku bingung bercampur senang.

“Iya, habis, Jilan kan sayaaaang sekali sama mama… Jilan nggak
mau, kalau mama menghilang lagi seperti tadi pagi”, matanya yang indah
menatapku polos.

“Tadi pagi?”

“Ng, waktu Jilan nakal”, ia tersenyum malu.


Tak mampu berkata-kata,
kurengkuh buah hatiku ke dekapan, kuyakinkan ia bahwa mama akan
berusaha  selalu ada untuknya, karena ia adalah segalanya.

“Ah…”, peristiwa yang kupikir telah dilupakannya itu kembali muncul
ke dalam ingatanku.



Tadi pagi, ketika di rumah hanya ada kami
berdua, Jilan tak mau kupakaikan baju sehabis mandi. Bagaimanapun aku mencoba,
ia selalu berhasil mengelak dengan berlari atau bergulingan kesana kemari.
Kalau aku berhasil memaksakan memasangkan kaos dalamnya, baru sampai di leher,
dengan segera ia mencopotnya lagi, lalu sengaja bergulingan di atas kasur,
terkekeh-kekeh senang, begitu seterusnya sampai aku mulai tak sabar. Grrhhhh….
Gadis kecil yang sebentar lagi 4 tahun usianya ini mempunyai gerakannya yang
lincah dan hampir tak pernah bisa diam. Lama-lama, rasa marah karena
dipermainkan bisa meledak juga tampaknya. Mmmmhh………

Untunglah niatan untuk belajar menjadi
lebih sabar masih tertanam di lubuk hati. Alih-alih hatiku nantinya yang akan
menjadi lelah dan sedih karena harus marah, aku mengancam kalau ia tak menurut
juga, akan kutinggal sendiri. Lagipula, kupikir percuma memarahinya sekarang,
ia sedang senang menggoda mamanya, mungkin segar sekali sehabis mandi? Aku
menghentikan usaha memakaikan baju dan berlalu ke kamar mandi, sambil
menenangkan diri dan memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Tiba-tiba timbul keisengan
untuk mengetahui apa gerangan reaksi anakku, kalau aku acuhkan dan benar-benar
menghilang. Aku pun masuk ke kamar mandi. Pintunya kubiarkan terbuka sedikit
dan mematikan lampunya.

Ketika mulai menyadari aku tak ada
disampingnya, Jilannisa mulai memanggil dan mencari keseluruh pelosok
apartemen.

"Mama?”

“Mama…? mama doko? (dimana)……?”, suaranya masih PD. Tapi ia tak melihatku dimanapun.

Awalnya masih dengan suara menggoda. Tapi ketika tak menemui
siapapun, suaranya pun mulai berubah perlahan, menjadi terdengar pelan, ragu
bercampur cemas…

“Ma....ma…..”, . Tampaknya mulai merasa kehilangan.

Ia mencariku ke toilet di sebelah kamar mandi, lalu balik lagi ke ruang tengah, setengah berlari.

“MAAAMAAAA…….nnggghhh…..”, terdengar suara yang mulai ingin menangis.


Tak jua menemukanku, ia muncul kembali
mendekati kamar mandi. Bayangannya jelas terlihat olehku dari balik pintu. Aku
menunggu.

Ia
berhasil menemukanku beberapa saat kemudian setelah mencoba memeriksa
dengan mendorong pintu kamar mandi. Dipeluknya aku dengan lega. Aku
keluar dengan senyum sambil berlagak seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Bedanya sekarang, aku bisa memintanya memakai baju dengan mudah, tanpa
kendala sedikitpun (hi hi hi).

Ah, rupanya peristiwa itu sangat berbekas baginya.

***

Anakku
sayang, belahan hati…,aku jadi ingat perkataan para ahli bahwa pada
anak-anak seusiamu sekarang, daya ingat sangatlah berkembang optimal.
Ah, aku harus lebih hati-hati, lebih banyak belajar dalam bersikap,
lebih bersabar dan mendekatkan diri pada Allah. Agar aku bisa, agar aku
dapat mengisi hari-hari indah tak ternilai bersamamu dengan benar…
Doakan juga mamamu ini ya nak…



Kanazawa
, 27 September 2005

Henny Herwina Hanif




Friday, September 23, 2005

(Liputan 2) Undangan amat terbatas pada pernikahan tradisional Jepang




Kanazawa, 27 Agustus 2005. Setelah sekian lama, akhirnya dapat kesempatan juga meliput upacara perkawinan tradisional Jepangnya teman, Tanaka san (istri) dan Komura san (suami).

Salah satu penyebab kelangkaan kesempatan melihat upacara perkawinan secara tradisional ini adalah, karena pestanya amat mahal. Seorang undangan diharuskan membawa amplop berisi uang sekitar 40 ribu yen atau lebih dari 3 juta rupiah (bisa lebih, tergantung status ekonomi).

Sebagai gambaran, seorang teman mahasiswa pernah harus menabung khusus, untuk dapat menghadiri pernikahan sahabatnya. Walaupun sebagai pelajar ia sudah mendapat diskon, tapi tetap saja jatuhnya diatas 20 ribu yen, atau diatas 1.5 jutaan. Bayangkan kalau dalam waktu berdekatan anda menerima beberapa undangan :)

Makanya tuan rumah pun sangat berhati-hati memilih siapa yang akan diundang. Biasanya kerabat amat dekat, beberapa orang saja dan petinggi di tempat bekerja (teman akrab sekalipun, sering tidak termasuk nominasi undangan, hiks)

Biasanya untuk teman dekat, agar meringankan, diadakan pesta susulan di restoran atau hotel. Pada pesta susulan ini, jumlah uang yang perlu dibayar lebih sedikit, hanya untuk makanan, sekitar 5-10 ribu yen, diluar bingkisan :). Acaranya pun tidak formal lagi.

Sebagai reporter, kita tidak dikategorikan undangan, boleh datang dan meliput tapi tidak semua bagian. Ruang resepsi tradisional benar-benar hanya buat "para undangan".

Bagaimanapun ini adalah salah satu pesta yang indah dan mengharukan, yang pernah saya lihat. Semoga menjadi pertautan hati yang kekal dan bahagia Tanaka san, eh Komura san....
Omedetou gozaimasu....