Wednesday, July 23, 2008

Pipiet Senja




"Jangan ragu....Ini saatnya membuktikan dirimu sebagai penulis handal Dek, tidak sembarang orang hlo, tulisannya dapat terpilih dalam curahan hati pasutri antar benua! Semangat!" tulisnya menggebu lewat sms.

Begitulah caranya Teteh mengembalikan semangat yang mengendur untuk melanjutkan saja acara launching buku Persembahan Cinta di Padang, walaupun beliau berhalangan menghadiri. Jadilah acara tetap berjalan dalam bentuk Soft Launching, dan Alhambulillah membawa serta buku Getar Asa Negeri Sakura (Kumpulan Kisah Mengandung Hikmah karya FLP Jepang) untuk dibedah dengan sukses. Pengalaman berharga yang mungkin tak akan pernah dirasa tanpa dorongan dan teror semangatnya Teteh.

Seringnya hanya berdikusi dan bicara lewat alam maya dan sms, alangkah bahagianya ketika dapat bertemu langsung dan memeluk wanita istimewa ini dalam sebuah acara beliau bersama para wanita penulis indonesia di Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Friday, May 23, 2008

Resensi GANS di Tabloid GENTA ANDALAS

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author: e_abi, GENTA ANDALAS
Siang itu ruang shalat jurusan Biologi FMIPA UNAND bagian wanitanya amat penuh. Melihat ruang shalat pria sedang sepi dan tak berpenghuni seorangpun, aku tergoda untuk melangkah kesana. Walau dihati terniat untuk shalat disana saja, masih terhalang oleh rasa ragu akan nasibku jika para pria berdatangan. Karena ruangan tak begitu besar, kehadiranku yang melanggar aturan tentu hanya akan membuat kekacauan. Sekalipun alasannya untuk shalat he he.

Sekilas, aku melihat sebuah tabloid di atas sajadah yang kosong. Setelah kuraih dan sedikit dibolak-balik, mataku menemukan gambar buku Getar Asa Negeri Sakura (GANS), di buletin mahasiswa itu. Suatu kebetulan? Hm, Alhamdulillah lebih patut kulafazkan di hati.

Apapun alasannya, yang pasti aku berubah menjadi mensyukuri ruang shalat wanita yang penuh dan kakiku yang tak sengaja telah melangkah ke ruang shalat pria ini, yang mengantarkan aku pada resensi GANS yang telah lama kutunggu-tunggu. Waah, apa ya komentar mahasiswa UNAND tentang buku pertama FLP JEPANG dimana aku banyak mengenal dunia kepenulisan ini ? Baca sama-sama yuuk...

Resensi GANS di Tabloid GENTA ANDALAS, Edisi XXIX, Mei 2008

Judul Buku : Getar Asa Negeri Sakura
Penulis : FLP Jepang
Penerbit : Lini Zikrul Remaja
Tebal : 176 halaman


KEINDAHAN CINTA MUSLIM SAKURA

Keteguhan iman, cinta dan kasih sayang. Mungkin itulah kalimat yang tepat dilontarkan bagi umat muslim di negeri sakura, beribadah di negeri orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa itu merupakan ujian yang cukup berat. Belum lagi banyaknya informasi dari berbagai media yang menyudutkan Islam, menimbulkan tantangan tersendiri bagi mereka untuk tetap pempertahankan akidahnya. Dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT, mereka berusaha untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat yang mayoritas non-muslim.

Buku yang ditulis FLP Jepang ini mengisahkan kehidupan umat muslim di Jepang. Walaupun perbedaan agama begitu kental,mereka berupaya untuk saling menghargai satu sama lain. Ini merupakan suatu bukti keharmonisan hidup mereka. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan tidak membuat mereka berpaling ke jalan yang lain. Justru pahitnya kehidupan memperkuat iman mereka. Getirnya kehidupan di negeri orang dilewati dengan kesabaran. Bahkan, ajaran Islam tidak luntur oleh derasnya godaan yang selalu menerpa dalam menapaki kehidupan setiap harinya. Kemandirian dan istiqomah umat muslim disana mencerminkan kepribadian Islam yang sesungguhnya.

Kalimat yang dirangkai begitu lugas mampu membawa pembaca merasakan apa yang mereka rasakan. Hanyut dalam tiap lembaran kisah hidup yang dapat dijadikan teladan dalam menjalani hidup. Kisah hidup yang penuh cinta, kasih sayang, mandiri, dan kesabaran memberikan aspirasi dan semangat baru bagi yang membacanya. Selain itu, pembaca juga deperkenalkan dengan budaya Jepang yang dikenal dengan istilah kairetsu yang mendeskripsikan kemandirian, keuletan, dan tingginya sikap saling menghargai yang dimiliki oleh penduduk Jepang.

Alur cerita disertai dengan beberapa istilah Jepang yang umum digunakan. Selain memetik hikmah dari kehidupan muslim disana, kita juga diajak berbahasa Jepang. Di akhir halaman juga diselipkan tips-tips ”how to get scholarship from Japanese foundation”. Banyak manfaat yang dapat kita rasakan. Bak kata pepatah “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”.

--------
Alhamdulillah, setelah bertanya sana-sini, pihak perpustakaan yang punya beberapa eksemplar berbaik hati menghadiahkan tabloidnya untukku. Sayang, aku tetap belum berhasil menemukan nomor telepon redaksinya. Padahal ingin sekali sekedar berterima kasih dan menanyakan nama asli peresensinya. Terima kasih Genta Andalas, semoga menjadi pahala..Amin...

Monday, May 19, 2008

Hingga Silaturahmi Terjalin Indah (GANS di Hati Pembacanya (3))

Setelah mendengarkan bedah GANS yang memukau dan mendapat hadiah puisi dari Prof Satni Eka Putra yang membuatku takjub serta tak henti-hentinya bersyukur, sesi kedua acara Bedah GANS pada acara Pesta Buku dan Pendidikan Minangkabau kembali dilanjutkan dengan mempersilahkan hadirin yang ingin bertanya atau berkomentar.

 

Randi Wahyudi dari FLP Sumbar minta diberi gambaran cara menerbitkan tulisan menjadi buku dan penjelasan tentang alasan penolakan GANS sebelumnya oleh penerbit berbeda. Fitri, gadis manis dari Fakultas Ekonomi UNAND, ingin dijelaskan lebih jauh mengenai tips and trick mendapatkan beasiswa ke Jepang. Melisa Fitri dari Jurusan Bahasa Jepang Universitas Bung Hata Padang, menjadi penanya terakhir dalam acara Bedah GANS. Hampir sama dengan komentar sebelumnya, walau kuliah di Sastra Jepang, ia merasa sangat sedikit mendapat informasi tentang kehidupan di Jepang yang lebih spesifik seperti pada GANS. Gadis berkerudung ini  ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana perjuangan sebagai muslimah di Jepang. 

 

Acara bedah buku GANS diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari Zikrul Hakim kepada moderator dan pembicara. Masing-masing mendapatkan bingkisan bermotif mawar merah dari Pak Joni sebelum kembali membaur dengan semua hadirin. Sekali lagi aku dipanggil MC ke panggung, kali ini untuk Soft Launching buku Persembahan Cinta, mewakili para penulis dan penyuntingnya Teh Pipiet Senja. Secara singkat kujelaskan gambaran tentang buku tersebut, kumpulan curhat pasangan suami istri yang penuh dengan cinta dan pengertian mendalam tentang pasangan hidup. Buku ini dipersembahkan oleh 30 penulis dari berbagai negara (antara lain dari Perancis, Mesir, Singapura dan Indonesia). Dua orang penulis FLP Jepang juga terlibat didalamnya, yaitu aku sendiri dan Mba Aan Wulandari, PJ Sakura Project 1 FLP Jepang. Pak Joni kemudian melanjutkan dengan Launching buku Ungu Pernikahan, yang disunting oleh Pipiet Senja, Titi Said dkk.

 

Sesaat setelah mempersilahkan kami turun panggung,  MC mengumumkan pemenang doorprize yang berhak mendapatkankan buku GANS secara gratis dari Zikrul. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum mencapai tempat duduk, aku dicegat oleh para pembeli buku GANS yang sedemikian rupa telah membentuk antrian untuk meminta tanda tanganku sebagai perwakilan penulis di GANS. Aku dipersilahkan duduk di kursi panitia disamping panggung dengan sebuah pena yang telah disiapkan kru Zikrul. Aku membayangkan tugas seperti ini tentu telah dilakukan berkali-kali oleh para penulis profesional seperti Teh Pipiet Senja atau Mbak Helvy Tiana Rosa, serta berderet nama beken lainnya. Hla, aku?

 

Antara percaya dan tidak dengan kenyataan di depan mata, aku telah duduk dan menyapa ramah para pembeli GANS, berterima kasih dan berusaha memikirkan pesan terbaik yang bisa kukarang saat itu. Seharusnya menulis apa ya diatas tanda tanganku? Benar-benar aku tak mempersiapkan diri untuk episode setelah bedah buku seperti ini. Kepikiran pun tidak pernah. Apa boleh buat. Dengan semangat mewakili rekan penulis lainnya di GANS dan harus profesional, kugoreskan pena diatas lembaran buku yang telah dibuka oleh setiap pemilik barunya didepanku.

 

”Arigatou.... Sensei, itsuka... sodang shitemo yoroshi desuka?” tanya  Ibu Nanda, guru bahasa Jepang disalah satu SMU terkenal kota Padang.

 

”Ibu, minta tanda tangannya ya...? Itu..... artinya apa Bu? tanya seorang siswa SMA yang jadi agak bingung ketika kugores bukunya dengan hiragana.

 

”Cari sendiri ya ..he he”, godaku.

 

”Uni..selamat ya...., kalau Uni diundang ke Bengkulu, bersedia bukan?” tiba-tiba seorang pemuda bertanya padaku sambil menyodorkan dua buah GANS.

 

Aku menatapnya sambil memutar otak, rasanya belum pernah melihat pemuda itu.

 

”Ini rekan kita Elzam, ketua FLP Bengkulu Buk..”, jelas Fauzul, sekjen FLP Sumbar yang mendampinginya.

 

” Oooo.....?, oh ya!, tadi pagi Fauzul sempat bilang lewat sms ya..? Terima kasih sudah datang diacara kita Elzam! Jadi semacam ajang silaturahmi FLP nih ya.....he he !, InsyaAllah jika waktunya bisa disesuaikan, dengan senang hati...”, aku menjawab ramah sambil terus berfikir.

Kenapa gerangan aku ingin diundang oleh ketua FLP Bengkulu? Hm..., tentulah untuk bersilaturahmi sambil sharing pengalaman? Tapi bagaimana mengatur waktu dengan setumpuk pekerjaan dikampus? Hm....

 

”Selamat ya Buk...?” Fauzul , mahasiswa ekonomi yang baru kukenal di FLP Sumbar bulan lalu itu tersenyum senang.

 

Fauzul telah membantuku mencari tokoh yang bersedia menjadi pembedah buku GANS, yang mengirimkan file puisi untuk acara selingan dan pembuka. Fauzul juga yang datang paling awal untuk persiapan di lokasi acara. Fauzul dan rekan-rekannya, aku banyak berhutang budi pada mereka.

 

”Berkat kerjasama kita semua Fauzul, Alhamdulillah...., Makasih banyak ya....”, aku benar-benar beruntung dipertemukan dengannya.

 

Setelah memberikan ”goresan sakti dari negeri sakura” di halaman pertama beberapa buku GANS lainnya, Elzam dan seorang temannya yang juga dari Bengkulu meminta kesediaanku untuk berfoto bersama. Didampingi para pengurus dan anggota FLP Sumbar, kamipun berbaris rapi untuk dijepret. Yah, dokumentasi foto begini juga perlu sekali, apalagi untuk laporanku ke Jepang nanti he he....(kameraku? Oh...ia telah tiba-tiba rusak sesaat sebelum acara dimulai… hiks).

 

”Mbaaak...., buku aku juga ditanda tangani doong...!” Rina, gadis PR panitia pesta buku yang spesial datang dari Jakarta inipun ternyata tak mau ketinggalan, berteriak sambil sibuk berbenah untuk acara berikutnya, Bedah Buku Aisyah dilokasi yang sama.

 

”Iya saaay..., untukmu special, bukunya khusus dari aku aja ya...! kerja dulu sana!” balasku sambil melambai padanya.

 

Malamnya, saat kuceritakan melalui sms mengenai jalannya acara pada Teh Pipiet Senja yang merupakan penyunting akhir GANS dan berterima kasih atas kesempatan yang telah beliau berikan sehingga aku mendapatkan berbagai pengalaman berharga, seperti biasa Teh Pipiet membalas smsku dengan ceria:

 

”He he he,  daku ikut bahagia dinda! Ternyata nikmat ya jadi penulis?" balasnya. 

 

(bersambung)

Tuesday, May 13, 2008

PUISI SANG PROFESOR (GANS Di Hati Pembacanya (2))

Ditengah kesibukan mempersiapkan acara di depan Gedung Bgd. Aziz Chan Padang Sabtu sore itu, sempat kuperhatikan bahwa Bedah GANS kali ini dihadiri juga oleh media cetak (Padang Ekspres) dan elektoronik (Padang TV) yang langsung beraktivitas di lokasi acara. Beberapa guru SMA kenalanku, Para aktifis FLP Sumbar yang telah kukenal wajahnya, Dr. Ratni dari Fak. Ekonomi yang akan menyumbangkan pembacaan puisi juga telah muncul diantara pengunjung lainnya yang telah mulai duduk memenuhi kursi yang tersedia.

 

Seorang Profesor senior dari Jurusanku Biologi, juga menyempatkan diri untuk hadir. Aku merasa tersanjung dengan kedatangan Profesor yang juga mantan pejabat yang masih sibuk dengan LSMnya ini, Prof. Satni Eka Putra. Sebentar lagi memasuki masa pensiun ternyata tak membuat beliau kekurangan semangat untuk beraktifitas dan memberikan apresiasi pada kegiatan kami kali ini. Kesan  sebagai seorang akademisi tulen terlihat jelas dari penampilan beliau, meskipun sore itu beliau tampil memakai baju dari bahan kaos berwarna coklat berlurik yang santai. Pak Ronidin dan Pak Joni-Zikrul Hakim kuminta mendampingi Prof Satni duduk di bangku terdepan. Sebuah buku GANSpun dihadiahkan untuk beliau baca.

 

Setelah Pak Ronidin menjabarkan bedahannya tentang GANS, Dr.Ike moderator kita segera membuka sesi diskusi. Sesi pertama diberika kepada empat orang untuk bertanya atau berkomentar. 

 

Seorang ibu guru muda yang bernama Lidya, mengaku membaca GANS karena kakaknya membeli buku tersebut sebelumnya. Ia membacanya tanpa sepengetahuan sang kakak yang sedang keluar kota dan menjadi sangat terkesan. Sebelumnya Lidya hanya mendapat gambaran tentang Jepang melalui film seri OSHIN dan buku Kapas Kapas di Langit-nya Pipiet Senja. Pertanyaannya ditujukan kepadaku, terutama mengenai sistem pendidikan di Jepang, dan bagaimana caranya para penulis mengambil hikmah dari kehidupannya untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.

 

Selanjutnya Syamsul Bahri, mahasiwa IAIN Imam Bonjol bertanya padaku (mereka memanggilku Uni Henny), tentang apa alasan atau sebab aku mulai menulis, dan apa triknya membuat cerpen (Syamsul belum membaca GANS sebelumnya).

 

Alex, seorang dosen muda dari Fak. Sastra UNAND menanyakan apakah ada pendekatan yang bersifat dakwah islami di GANS, sementara ia punya teman yang sedang berada di Jepang dan selalu berkomunikasi lewat email, sangat kesulitan mendapatkan makanan halal, dan nyaris jadi vegetarian (Alex juga belum membaca GANS sebelumnya).

 

Selanjutnya Zul Afrita dari FLP Sumbar menyebutkan bahwa sebelum GANS, informasi yang diterimanya tentang Jepang, tak jauh dari masalah politik, ekonomi dan teknologi belaka. Jadi GANS amat bermanfaat baginya karena dapat memberi pengetahuan baru mengenai sisi kehidupan lainnya di Jepang. Lebih jauh Zul mempertanyakan motivasi menulisku.

 

Hampir semua pertanyaan ditujukan kepadaku namun untuk menjawab pertanyaan Alex, kuberbagi dengan Pak Ronidin, karena dari materi bedahannya tentang GANS kuperkirakan beliau juga sudah tahu betul, bahwa banyak sekali muatan dakwah dan informasi keislaman di Jepang yang terkandung didalam GANS. Sedikit beliau mengulas kembali tulisan mengenai berpuasanya keluarga Mba Rose Firdausi dalam Semoga kujelang Lagi, pertimbangan untuk mengkonsumsi makanan halalnya Mba Rieska dan Mba Gina Kumara  melalui Strawberry Cake dan Halal, serta beberapa contoh lainnya. Sedangkan pertanyaan Lidya, Syamsul dan Zul Afrita kuusahakan untuk dijawab sekaligus dalam beberapa poin. Bahwa tulisan di dalam GANS adalah kumpulan kisah dan bukan cerpen, sempat dijelaskan Pak Ronidin saat menjawab pertanyaan Alex.

 

Semakin sore, peserta bedah buku semakin tampak antusias. Sementara waktu yang terbatas membuatku mulai cemas karena setelah GANS, akan dibedah pula buku Aiyah dari penerbit Pena. Dengan kode mata dari mba Rina (panitia pesta buku) yang berarti masih aman, kami sampai pada sesi kedua. Moderator kembali memberi kesempatan pada empat orang berikutnya untuk bicara.

 

Prof. Satín Eka Putra yang mengangkat tangan segera diberi kesempatan berikutnya oleh Dr. Ike.

 

” Silahkan Prof...” ujarnya dengan senyum manis.

 

Prof Satni berjalan menuju mikropon.

 

”Saya tidak akan bertanya, tetapi menyampaikan kesan. Saya baru membaca dua kisah di dalam GANS yang dihadiahkan Pak Joni, Mata Hati dari Abu Aufa, dan Saputangan Untuk Aceh-nya Henny. Saya pilih membaca tulisan itu dulu, terutama karena Henny yang mengundang saya kesini. Saya sangat terkesan dengan Henny dan rekan-rekan. Saya belum pernah ke Jepang, tapi ke negara lain didunia telah beberapa kali. Saya punya banyak rekan yang juga bersekolah diluar negeri, tapi yang kembali dengan membawa kesan mendalam dan dituangkan dalam tulisan yang indah dan bermanfaat bagi orang banyak seperti Henny cs. baru saya temukan hari ini!”

 

Hadirin bertepuk tangan. Aku mendengarkan setiap perkataan pak Satni dengan dada bergemuruh. Entah apa namanya perasaan seperti ini. Ada rasa takjub, haru dan syukur.

 

”Sempat saya membuat coretan kecil dibagian belakang poster yang saya terima, maka dengarkanlah puisi yang saya persembahkan untuk para penulis GANS!”, Prof Satni melanjutkan.

 

 

Kini Kuberi

 

Di ufuk mentari pagi

Semilir angin sepoi bernyanyi

Sakura wangi berseri

Kusentak lelap kuhanyut mimpi

 

Kurentang langkah

Kumelangkah

Berlari dan berlari lagi

Mendapat yang kucari

Tidak disini

 

Kini kukembali

Kini kuberi

Kini kudisini

Kuberi yang kuisi, untuk berbagi

 

”Puisi ini untuk menghargai kreativitas para penulis GANS!” ujar Prof Satni.

 

Hadirin kembali bertepuk tangan. Aku tak mampu berkata-kata. Kulirik Dr. Ike dan Pak Ronidin penuh arti.

 

Prof Satni,  beliau adalah bagai Bapakku yang paling senior di Biologi, seorang ahli Perilaku Hewan, Pengendalian Hama, jauh dari dunia seni, dan hari ini beliau sudi datang dan  duduk di depan kami pembicara, membaca GANS, lalu sempat pula menuliskan puisi dalam hitungan menit untuk para penulis GANS. Sahabat, bisakah dikau membayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Ingatanku kembali terbang pada Mba Nesia, Mba Irma, Pak Adi, Pak Ferry, Mba Aan, Amba Ulya......dllnya, sahabatku di FLP Jepang.... 

Sahabat dengarlah! sahabat  lihatlah!  apa yang terjadi di depanku kini...aku mengadu pada para sahabatku di dalam hati, ingin mencurahkan rasa yang berkecamuk.

 

”Saya lanjutkan lagi”, sambung Prof Satni menyentakkanku.

 

Kusemai Kutuai

 

Kutapaki tangga ketiga

Kutatap mentari, kupungut sakura

Kuhadang badai, tak bereaksi

Kuisi pundi, tak berisi

 

Kugapai capai -sampai

Kusemai-kutuai

Kubelah-kupilah

Kulebur-kutabur

Kubawa kupanjat doa

Buat nusa, agama dan ayah bunda

 

Padang, 3 Mei 2008

Satni Eka Putra (ttd)

 

Prof Satni kemudian langsung menyerahkan kertas coretan puisinya ke  atas panggung sambil menyalamiku, Pak Ronidin dan Dr. Ike.

 

Betapa aku ingin mengatakan sesuatu yang berarti bagi beliau, namun yang keluar dari bibirku hanya tiga kata itu saja.

 

"Terima kasih Pak...", ujarku takzim.

 

Dan mataku menghangat lagi.

 

(bersambung)

Friday, May 9, 2008

GANS di PADANG EKSPRES

Rating:★★★★
Category:Other
PADANG EKSPRES, Senin, 5 Mei 2008: METROPOLIS: BEDAH BUKU;

Sub Judul : GANS "Dibedah"

Forum Linkar Pena Jepang mempersembahkan buku Getar Asa negeri Sakura
(GANS) penerbit Zikrul Hakim. Buku yang dilengkapi tips dan trik untuk
mendapatkan beasiswa ke Jepang ini, Sabtu lalu di bedah oleh dosen
Fakultas Sastra UNANd Ronidin.

Penulis buku ini, Abu Aufa, Rose Nakamura, Irmayanti, Nesia Adriana,
Arida Istiarti, Rieska Octavia, Ulya Zulmadji, Ari Aji Astuti, Yuliani
Lupito, Ummuthoriq, Aan Wulandari, Ivandini Tribidasari, Henny
Herwina, Adi JM, Hermin Wicaksono, Mulla Kemalawati, Astarina Laya dan
Seriyawati.

"Buku ini mengisahkan kehidupan sehari-hari mahasiswa muslim dan
muslimah yang kuliah di negara Jepang dan merupakan hal yang biasa.
Namun, ketika ditulis dalam sebuah buku menjadi luar biasa dan
menggetarkan," kata Ronidin.

Di buku ini, sebut Ronidin, menggambarkan situasi melaksanakan puasa,
jilbab, shalat ditengah ketidakpedulian orang Jepang terhadap
agama, etos kerja hingga kepedulian orang Jepang terhadap gempa dan
tsunami yang melanda Aceh, desember 2004. "Kisah yang dituang dibuku
ini menggetarkan jiwa," lanjutnya.

Salah seorang penulis dalam buku ini dengan Judul Saputangan Untuk
Aceh, Henny Herwina menuturkan, buku ini sempat ditolak penerbit,
namun setelah diperbaiki dan disempurnakan, Alhamdulllah buku ini
berhasil diterbitkan. "Kehadiran buku ini sebagai bentuk keharmonisan
FLP Jepang," sambung Henny, yang juga dosen FMIPA UNAND ini (ril).

Tuesday, April 29, 2008

Launching Buku Persembahan Cinta dan Bedah GANS di Pesta Buku dan Pendidikan Minangkabau 2008

InsyaAllah, pada hari Sabtu tanggal 3 Mei 2008, pukul 13.30 s/d 16.00 WIB, di Gedung Bagindo Aziz Chan Padang (meneruskan amanat dari  Teh Pipiet Senja dan penerbit Zikrul Hakim) akan di adakan:

Launching Buku: Persembahan Cinta (Pipiet Senja, dkk, Zikrul 2008)

dan

Bedah Buku :Getar Asa Negeri Sakura (FLP Jepang, Zikrul 2007)

dalam acara PESTA BUKU DAN PENDIDIKAN MINANGKABAU 2008.

Ditunggu kehadirannya buat yang bisa datang, mohon doa sahabat semua yang  belum bisa bergabung...

Semoga acaranya lancar dan semua yang terlibat mendapatkan hikmah dan manfaat dari kegiatan ini.

Catatan khusus:

Sangat ditunggu sekali, dukungan, masukan dan saran dari para penulis yang tulisannya tergabung dalam buku Persembahan Cinta dan Getar Asa Negeri Sakura ya....

Henny H

 

 

 

Friday, April 25, 2008

J u m p a S a k u r a

J u m p a  S a k u r a

Kuyakin hanya dalam seper-sekian detik perbedaan waktu, disaat aku
sedang membaca nomor telepon genggam seorang sahabat yang terekam di
telepon genggamku untuk kuhubungi pagi itu, tiba-tiba nada dering
pertanda adanya telepon masuk menyentakkanku. Sesaat aku terpana
karena nomor yang berpijar di layar teleponku adalah nomor yang
kelihatannya persis sama dengan yang ingin kuhubungi. Dengan
kesadaran yang belum lengkap, segera kupencet tombol
Answer.

"Mbak…. Seri....?" aku menebak dengan suara yang pastinya
terdengar ragu.

***
Angka 26 dibagian dua angka terakhir dari nomor telepon ini secara
otomatis mengingatkanku pada seorang sahabat, yang kemaren
menghubungiku dari Jakarta. Ia menyebutkan jadwal penerbangan dan
waktu kedatangannya di Bandara Internasional Minangkabau Padang, dan
aku menyesal sekali tidak bisa menjemputnya karena tengah berada di
Padang Panjang dalam rangka Kuliah Lapangan Umum dengan ratusan
mahasiswa, alumni dan dosen Jurusan Biologi UNAND. Ketika ia
meneleponku, aku sedang menggali tanah bersama beberapa orang
mahasiswa untuk memasang pitfall trap dan mengumpulkan sarasah dari
beberapa tempat yang kemudian dimasukkan kedalam kantong kain putih
untuk dibawa ke laboratorium.

Lokasi tempat kami membuat transek saat itu ternyata dihuni oleh
banyak Haemadipsa, sejenis pacet, sehingga kewaspadaan harus prima
kalau tidak ingin hewan yang termasuk ke dalam Phylum Annelida
tersebut bersemayam pada bagian tubuh yang tidak diinginkan, dan
dengan diam-diam menghisap darah kita sepuas hatinya. Aku gemas
bukan kepalang dengan mahkluk yang sekilas tampak lembut seperti
ulat kupu-kupu Papilio namun ketika sudah berhasil menancapkan
caudal suckernya di kulit kita, dengan lahap ia akan menghisap darah
kita yang merah segar. Lihai. Wajarlah hewan tak bertulang belakang
ini sering disebut dengan lintah darat. Aku bergidik memikirkan
makna dari istilah "lintah darat" dalam peradaban umat manusia.


Beberapa mahasiswa yang sudah terbiasa dengan kehadiran pacet,
dengan bangga hanya memakai sandal sebagai ganti sepatu boot untuk
lapangan. Bahkan ada yang hanya bertelanjang kaki seolah menantang
si lintah darat yang lihai ini. Aku hanya menggelengkan kepala
ketika menyadari tidak semua mahasiswa bersepatu lapangan seperti
seharusnya.

"Nggak sempat mengganti dengan sepatu Buk, kan kita diajak ke area
ini dadakan...," mereka beralasan.

Dan tentu saja, tinggal menunggu saatnya...


"Aiiiiii!, Au Au, Aaaaa….!" terdengar jeritan kaget dan jijik dari
mulut Arika, seorang mahasiswi bimbinganku.
" Wuauuaa..pacet dikakikuuuu…. !, teriakannya bernada kaget dan
jijik.

Tubuh mungilnya meloncat-loncat tak terkendali. Dengan sabar dan
senyum tipis seolah melihat hal kecil, Awal, mahasiswa yang menjadi
asistenku pada beberapa praktikum memegang pacet yang sudah gendut
kekenyangan dari sela-sela jari kaki Arika, lalu membuangnya ke
semak di jalan setapak di dalam hutan yang masih masuk kawasan Cagar
Alam Lembah Anai itu. Teman meraka yang lain tersenyum-senyum
menggoda.

"Kok yang ditempeli pacet hanya orang-orang penakut padanya ya...?"
Desman, yang berperawakan tegap dan terlihat dewasa dari umurnya
pura-pura bertanya.

Mata Desman menatap angkasa dengan dibuat-buat. Ia nampak banggga
karena para pacet tak berminat padanya, padahal ia sudah
bertelanjang kaki dengan gagah berani. Memang sejauh ini Desman
aman. Entah karena kulitnya yang nampak tebal dan kehitaman, atau
pacet tidak menyukai bau tubuhnya.

"Ternyata ada manfaatnya kan jadi perokok?" ujarnya tersenyum puas.
"Hanya ....untuk kasus ini saja, mungkin ya, untuk kasus lain, tak
ada toleransiku!"protes Rita yang hidungnya sangat sensitif terhadap
bau rokok, persis sama denganku.

Aku sendiri yang pernah punya pengalaman tersendiri dengan pacet
pada saat masih mahasiswa memang cukup khawatir dengan mahkluk yang
tiba-tiba sudah mencapai paha bagian atas, padahal celana panjangku
sudah diikat dipergelangan kaki dengan karet gelang. Sendainya aku
tak merasakan isapan pertamanya yang agak perih di paha, entah
kemana pacet itu akan melanglang buana ditubuhku. Wiiiiw...!

Diantara kehebohan pengambilan sampel dan perjuangan menghadapi
kelicikan pacet itulah Mba Seri meneleponku.

"Diperkirakan pukul 17.00 WIB Mbak Seri sudah sampai di Bandara ya?
Oooo, ada adeknya yang menjemput? Ok...," aku memperjelas informasi
yang diberikannya ketika itu.

"Kalau saya bisa mencapai Padang sekitar pukul lima saya akan ikut
ke Bandara juga, tapi kalau tidak bisa, kita janjian untuk ketemuan
disuatu tempat, dan dipastikan lewat telepon aja ya Mba...," begitu
kataku, merasa senang sekali, akan berjumpa sahabat yang selama ini
hanya dapat kujumpai melalui tulisannya di mailing list atau akhir-
akhir ini satu dua kali di multiply.

Ternyata perkiraanku meleset, karena hujan deras dan rasa kantuk
akibat kurang tidur di lapangan yang sudah sampai pada taraf
membahayakan untuk menyetir mobil sendiri, aku sempat menumpang
tidur di sebuah Mushalla di pinggir jalan barang beberapa menit,
setelah sukses melewati daerah Silaiang yang terkenal karena banyak
kelokan tajamnya. Jilannisa putriku, satu-satunya penumpang di mobil
kami, dengan segera tertidur pulas di lantai musholla beralaskan
mukena berwarna pink kesayangannya. Kami anak-beranak terkapar
beberapa saat.

Setelah menunaikan shalat Ashar baru aku bisa melanjutkan perjalanan
balik ke Padang, sementara gadisku kembali tertidur pulas ketika
mobil mulai bergerak. Karena kami juga membawa sepeda anak ke lokasi
perkemahan (dengan maksud membuatnya senang bermain menikmati MinangVillage karena diperkirakan mamanya akan konsentrasi pada acara),
jok mobil yang biasanya bisa didorong ke belakang sehingga ia bisa
merebahkan diri, menjadi tertahan. Jadilah ia tertidur dalam posisi
duduk. Aku meliriknya dengan agak prihatin lalu menghibur diri
sendiri bahwa perjalanan kami hanya sekitar satu jam lagi.

Setelah mentransfer Jilannisa pada papanya, aku melanjutkan
perjalanan ke kampus karena harus memasukkan 20 sampel ke dalam
Winkler litter shifter. Baru pukul 22.30 malam semua pekerjaan
selesai walaupun sudah dibantu dua orang mahasiswa. Sempat pula aku
dibuat cemas karena Deco, mahasiswa yang berbadan tinggi dan
tenaganya sangat diperlukan untuk menggantungkan bahan penelitian ke
langit-langit ruangan, ditelepon oleh orang tuanya pada pukul 21.00.
Ketika kutanya mengapa, ia menjelaskan bahwa biasanya ia pulang
kerumah paling lambat pukul 22.00 WIB, jika melewati batas itu,
tidak ada yang akan membukakannya pintu rumah. Akibatnya kami
bekerja dengan tempo dipercepat dan perasaan hampir tak yakin akan
bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum pukul 22.00. Belum lagi waktu
yang dibutuhkan untuk berkendaraan pulang dari kampus kami yang
berada diatas bukit Limau Manis menuju ke rumahnya di daerah Air
Tawar yang dekat dengan pantai. Kami semua kelelahan, karena seluruh
proses di laboratorium kali ini dilakukan dengan berdiri dan tak ada
waktu untuk istirahat barang sejenak. Akupun lupa menelepon Mba Seri
kembali malam itu.
***

"Iya Mba, Henny...," terdengar suaranya lembut menyadarkanku dari
keraguan.
"Aduh…, Mba Seri…, barusan saya mau telepon. Dimana Sekarang Mba?"
"Saya ada di Matahari bareng Adek dan Bapak, siang ini langsung ke
Bandara...".
"Saya susul kesana ok, Mba Seri mau lihat-lihat pasar Padang dulu?"
" Sudah, saya tinggal ingin ketemu Mba Henny…".
Aku memikirkan bagaimana baiknya, karena dibutuhkan sekitar 30 menit
kalau saya turun gunung dari Kampus Limau Manis menuju kota.
"Mba Seri, mungkin kita bisa ketemuan di salah satu restoran?"
tawarku.
"Kami sudah makan, barusan saja...".
"Mau beli oleh-oleh mungkin? Karena butuh waktu sekitar setengah jam
dari kantor saya sekarang. ..".
"Nggak, sudah nggak mau kemana-mana lagi, saya tunggu Mba Henny
dimana?"

Aku jadi kelabakan karena sepertinya tak ada pilihan lain, juga
karena kasihan membuat Mbak Seri dan keluarga akan menunggu,
sementara berbagai alternatif aktifitas sebagai perintang waktu yang
dicoba tawarkan nampaknya tak mempan untuk Mba Seri saat ini.
"Sekarang lagi dimana persisnya Mba?" tanyaku akhirnya untuk
memastikan posisi.

"Depan Sari Anggrek, toko buku".
"O.. kalau begitu, Mbak Seri lihat-lihat buku sebentar ya..., saya
langsung naik mobil kesana, sekarang juga.....," pintaku sambil
masih merasa kurang enak membuat mereka menunggu di tempat itu.
"Keluar sebentar Mba Maya!" teriakku pada seorang pegawai Jurusan
sambil berlalu ke tempat parkir tanpa mengharapkan jawaban apapun
darinya.

Saat mengemudi, aku membayangkan alangkah baiknya kalau Mba Seri dan
keluarga bisa duduk sambil menunggu di sebuah toko kue di depan toko
buku Sri Anggrek. Akupun menelepon lagi.

"Mba, kalau Bapak dan anak-anak capek menunggu, sebaiknya...."
"Nggak kok, kita lagi makan es krim...," potong Mba Seri terdengar
santai.
"Kalau begitu baiklah.."

Kubayangkan mereka telah dapat menemukan cafe kecil disekitar toko
buku. Kutambah kecepatan. Sekitar 10 menit sebelum sampai di toko
Sari Anggrek yang terletak di jalan Permindo, aku sempat mampir
disebuah toko kue guna membeli sekedar oleh-oleh ringan. Aku baru
sadar kalau belum sempat menyiapkan apa-apa bagi Mba Seri. Sedikit
ada masalah disini, karena penjaga toko tak mau menjual kotak kue
padaku, karena yang aku beli adalah semacam keripik.

"Nggak bisa Buk, kotak ini hanya untuk roti," katanya sambil
menatapku dengan gaya tegas.

Aku menatap kotak-kotak kertas bermotif menawan yang tersusun rapi
dan menjulang tinggi di sala satu sudut ruangan. Jumlahnya
kuperkirakan cukup banyak.

"Tapi kalau boleh, saya ingin membeli kotak kertas ini, satuuu saja,
agar bisa memasukkan keripik yang hanya diplastikin ini kedalamnya
karena akan saya berikan ke teman sebagai oleh-oleh, nanti saya
bayar kotaknya..," jelasku.
"Ndak bisa Buk, kotak ini hanya untuk roti..," ia masih bertahan.
"Uni..., saya kan sama-sama beli makanan disini, sebagai pengganti
roti saya membeli keripik ini saja kali ini, karena untuk dioleh-
olehin ke teman... ," protesku tak sabar, soalnya aku merasa sedang
bertarung dengan waktu.

Penjaga toko tak bergeming. Aku tak habis pikir. Selanjutnya,
sebagai akumulasi dari kegusaran karena tak boleh membeli kotak dan
waktuku yang sangat sempit karena sedang ditunggu Mba Seri
sekeluarga, aku memutuskan bertindak sendiri. Kotak yang memang
tinggal diisi dan disusun menjulang dengan posisi terjangkau itu
kuambil sendiri dan kuisi dengan dua bungkus keripik tanpa
memperdulikan tatapan tak menentu sang penjaga toko. Aku melihat ada
wanita lain di bagian belakang toko yang dari penampilannya
kuprediksi adalah atasan si penjaga toko dan segera berseru.

"Ibuu....? Uniii.?...saya beli keripik dengan kotak ini ya?, akan
saya bayar kotaknya!" ujarku sambil memperlihatkan kotak dan sambil
setengah berteriak agar ia bisa mendengar dengan jelas. Kubawa
keripik didalam kotak tersebut ke meja kasir.
"Harga kotaknya mahal!" jawabnya sambil mulai melangkah ke meja
kasir.
"No problem, saya bayar berapapun harganya," balasku, sepintas
mungkin terkesan seperti ibu-ibu yang congkak.
" Oh, tolonglah, waktuku terbatas kawan...,"

Akhirnya dengan masih agak heran wanita atasan penjaga toko itu
memencet tuts-tuts tertentu di meja kasir dan keluarlah jumlah yang
harus kubayarkan. Dan lihatlah saudara-saudara, jumlahnya sama
sekali tidak mahal!
"Ditambah dengan kotaknya seribu lima ratus ya Buk.,." ucap sang
atasan.
"Oh…tentu saja, terimakasih....., ini uangnya,, aku tersenyum penuh
kemenangan.
"Haah ada-ada saja, syukurlah aku tak menyerah ..,." pikirku dalam
hati sambil menuju mobil dengan riang.
***

Setelah memarkir mobil di depan Toko Buku Sari Anggrek, aku mulai
mencari-cari Mba Seri. Dari kejauhan aku melihat dua orang gadis
kecil, sekitar 2 tahunan dan memakai Jilbab mungil yang seragam dan
lucu tengah bermain-main dengan seorang lelaki setengah baya,
didampingi seorang wanita berjilbab panjang berwarna ungu tua.
Mereka berdiri agak berpencar disekitar kasir. Tidak jauh dari
mereka, seorang wanita dengan jilbab coklat muda dan baju senada
menoleh kearahku.

"Mbak Seri?," aku mencoba menebak duluan.
"Mbak Henny?"

Kami bersalaman dan berpelukan penuh kelegaan. Bagiku pertemuan
dengan Mba Seri punya arti yang khusus. Kehadirannya seolah mewakili
kerinduanku untuk menjumpai sahabat terkasih yang sebagian besar
tengah berada di negeri Sakura. Sahabat-sahabat istimewa yang saling
bahu-membahu menuju kebaikan diri dan masyarakat melalui karya-karya
yang terus diupayakan sarat makna. Mereka yang
tergabung ke dalam Fahima dan FLP Jepang. Mereka yang sebelum hanya
dapat kutemui di alam maya, namun dekat dihati.
Aku membayangkan Mba Seri berbadan besar dan agak tomboy gara-gara
pernah melihat fotonya suatu hari di maillist atau entah dimana
tepatnya. Mba Seri yang sebenarnya, ternyata lembut dan keibuan he
he.

Selanjutnya aku dihadiahi omiyage dari Jepang yang kuterima
dengan sukacita dan kusimpan baik-baik ke dalam tasku. Setelah
dikenalkan dengan Ayah Mba Seri, dan adiknya Ifa, serta dua gadis
kembar lucu yang ternyata keponakannya, aku mengajak mereka ke
sebuah toko roti (lagi...) diseberang toko buku, agar bisa duduk
sejenak dan berbincang.

"Satu jam saja, ayooo...?" mba Seri meminta persetujuan ayah, adik
dan juga sopirnya.

Semua menyetujui. Berombongan kami menyeberang menuju toko bernama
Golden. Setelah memesan minuman yang hanya Teh Botol karena menurut
Mba Seri mereka sudah tak kuat memakan dan minum apa-apa lagi. Kami
ngobrol sebentar di sebuah meja makan. Mba Seri bercerita tentang
rencana umrahnya, jadwal perjalananya, adiknya sekeluarga yang
sekalian akan ikut untuk pindah ke Jawa, anak-anak yang ditinggal di
Jepang dengan suaminya untuk semantara dan FLP Jepang tentu saja.

"Wooo, Mbak seri diminta anaknya bikin kue dulu sebelum pulang?
Nggak sempat tidur? Ehm Fifi chan ya?"
"Kiki..."
"Oh Kiki chan, maaf nih, saya ingat nama Kiki dari postingan Mba
Seri ke milis berupa cerpen anak, settingnya di lampu merah kalau
tidak salah...? " ujarku bersemangat, mencoba mengembalikan ingatan
tentang tulisan Mba Seri sekitar dua tahun yang lalu.
"Benar....!" Mba Seri tersenyum cerah sekali. Akukun senang masih
ingat tulisanya itu.
"Oh Iya, mana bukunya yang ditulis bareng teh Lizsa?, sudah tidak
tahan pengen baca neeeh...," tagihku tak sabar..
"Wuaa,... lupa..., nanti saya kirim ya? saya juga baru dapat GANS,
udah baca..".
"Gimana? Bagus? Saya baca semua tulisan waktu diedit Mba Aan dan
saya baca lagi setelah jadi buku, isinya persis sama, tapi rasanya
beda kalau sudah jadi buku ya......!."
"Iya, menurut pembaca saya juga begitu. Ada yang sudah punya kedua
buku saya, termasuk GANS, dan komentarnya melegakan...!"

Aku dan Mba Seri tidak memerlukan waktu dulu untuk menjadi akrab,
otomatis sudah demikian. Sesekali Mba Seri meminta ayahnya memotret
kami, bersama sikembar atau berdua saja. Aku menyesal tak membawa
kamera.

"Nanti kuposting di multiply deh...," janji Mba Seri menghiburku.


Diperkirakan baru 45 menit kami berbincang namun si kembar tampak
mulai bosan di dalam ruangan. Aku jadi tidak tega melihat Ibu dan
kakek mereka yang kelelahan menyabarkan. Setelah aku dan Mba Seri
berpandangan, kami memutuskan untuk membungkus saja minuman dan
dibawa ke mobil. Artinya, Mba Seri sudah harus pergi. Ah...

**
Perlahan, mobil hitam yang membawa Mba Seri dan keluarganya bergerak
mundur, keluar dari area parkir. Masih kuingat tatapan Mba Seri
melalui jendela mobil yang dibiarkannya terbuka. Mata teduh yang
sedang berbicara banyak.

"Benar Mba..., pertemuan ini memang terlalu singkat...," jeritku
dalam hati.


Ada rasa sesak menerpaku ketika harus berpisah dengan sahabat yang
baru saja hadir satu jam yang lalu dihadapanku. Tapi tak apa Mbak
Seri, kita telah sepakat untuk segera kembali berjumpa bukan?
Bersama dengan sahabat yang lainnya, senantiasa berusaha merajut
kata dan mempersembahkan karya, agar
suatu ketika dapat menjadi cahaya...

InsyaAllah...

Padang, 31 Maret 2008


Pitfall trap: perangkap jebak
Caudal sucker: alat isap bagian bawah
Wingkler litter shifter: semacam alat pengoleksi serangga

Catatan:

 Tuk Mba Seri yang mo Ultah tanggal 27 ini... witLuv...