"Selamat ya kak!", suara ceria Ai, mahasiswi jurusan Farmasi yang aktif di ESQ Sumbar itu menghentikan lamunanku di suatu subuh yang dingin pada bulan Februari 2008. Saat itu kami sedang antri untuk memakai kamar mandi di rumah gadang tempat kami menginap di Minang Village Padang Panjang. Wajah kami masih dibalut kantuk, setelah tadi malam mengadakan acara Pelepasan Dosen Purnabakti, dan kuliah lapangan umum Jurusan Biologi UNAND di panggung terbuka, Medan Nan Bapaneh. Sehabis menyelesaikan tugas sebagai MC, aku memang langsung membawa putriku Jilannisa yang telah tertidur di pangkuan Pak Johanes Allen ke rumah gadang tempat penginapan dosen dan alumni, lalu merebahkannya di atas dipan berkelambu tradisional yang terdapat di salah satu kamarnya. Ternyata aku telah ikut pulas tertidur hingga subuh, sehingga tak sempat mengikuti berbagai acara keakraban dan hiburan dari mahasiswa-alumni setelahnya.
"Selamat kenapa Ai..? Kamu datang sama siapa? Kok bisa nyasar kesini?", kataku terheran-heran dengan kehadiran anak Farmasi di acara Jurusan Biologi, walaupun dua jurusan ini memang terbiasa bergabung untuk urusan kuliah lapangan pada mata kuliah tertentu, seperti morfologi atau taksonomi tumbuhan.
"Sama Pak Dayar dan lain-lain kak...", terangnya menyebutkan nama profesor senior UNAND, pakar farmasi yang memang sangat akrab dengan semua orang, apalagi beberapa dosen biologi yang memasuki masa pensiun sekarang ini adalah sahabat dekat beliau.
"O...., pantes..., trus, kakak diselamatin kenapa tadi?"
"Kakak kan terpilih sebagai nominator dosen berpakaian termodis dan terpilih sebagai dosen dengan senyuman paling menawan di jurusan biologi...", Ai menggodaku dengan tersenyum penuh arti.
" Hah?, kenapa? kok bisa? eh?...tapi....makasih infonya ya....., kakak duluan ya....!" kataku tak sempat berpikir lagi karena harus segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwuduk. Antrian dibelakang kami masih panjang....
Siangnya, para mahasiswa yang kutemui saat akan mengambil sampel di lapangan juga memberiku ucapan selamat.
"Selamat ya Bu, Ibu mendapat hadiah bunga...", begitu kata mereka, walaupun sampai hari ini bunga itu tak pernah sampai ketanganku.
Anehnya pernyataan Ai di Minang Village masih terlintas dibenakku. Kalau aku jadi nominator dosen berpakaian termodis dan hanya terpilih sebagai termodis kedua karena dosen berpakaian termodis satu adalah Bu Zozy yang terbiasa tampil rapi dan maskulin dengan stelan baju kerja dan celana panjang yang apik, masih masuk akal bagiku. Aku malah bersyukur walau hanya menjadi nominator, karena penampilanku khasku dengan gamis dan jilbab panjang termasuk dikategorikan modis oleh para mahasiswaku. Artinya, usahaku untuk berpakaian Islami seperti yang dianjurkan telah pula menjadi pilihan sebagian dari mereka.
"Alhamdulillah, ini pertanda baik, semoga suatu hari nanti, berpakaian Islami menjadi pilihan utama para mahasiswiku....", bathinku.
Yang menjadi ganjalan dihati adalah bahwa aku terpilih sebagai "dosen dengan senyum paling menawan?". Aku menjadi bertanya-tanya, kenapa bisa para mahasiswa dari berbagai angkatan telah memberiku predikat demikian? Walaupun ini hasil angket khusus untuk acara tersebut saja, hasilnya membuatku tak habis pikir dan cendrung merasa cemas. Apakah aku telah tanpa sengaja menyebar senyum menawan kepada mahasiswaku sehingga...terlihat.... me-na-wan dimata mereka? Kalau demikian.... Astagfirullah... betapa aku takut akan murkamu ya Allah... Tiada maksudku seperti itu... Segala kebimbangan dengan konsekwensi dari profesiku sebagai dosen wanita bermunculan di kepalaku. Berbagai pro dan kontra pendapat tentang wanita bekerja menurut pandangan Islam dan segala resikonya kembali berputar dalam pikiranku.
Sampai beberapa hari kemudian, Arfellina, asistenku di Paraktikum Taksonomi Hewan Invertebrata memberikan penjelasan atas pertanyaanku.
"Ibu..., senyum yang menawan bagi kami itu, maksudnya adalah...bahwa senyum yang Ibu berikan pada kami .... begitu tulus...." jelasnya dengan tatapan dan ekspresi penuh rasa hormat dan sayang.
"Alhamdulillah..., jika demikian maksudnya..., terimakasih Felli", jawabku dengan rasa haru.
Terimakasih ya Allah, kalau ketulusanlah yang terbaca oleh para mahasiswaku. Senyum, terkadang tak kusadari telah hadir begitu saja ketika berjumpa dengan orang-orang disekitarku. Hanya kepadaMu aku berlindung dari kebinasaan...karena sikap dan perilaku-ku...
Perlahan, aku kembali teringat dengan komentar perpisahan dari salah seorang rekan satu laboratorium di Kanazawa Jepang di penghujung 2005, yang kemudian ditulisnya dalam album kumpulan pesan yang dilengkapi foto-foto rekan satu lab sebagai kenang-kenangan bagiku sebelum pulang ke Indonesia. Album istimewa yang selalu akan membuatku didera rasa haru jika membuka dan membaca komentar-komentar mereka...
"Hallo Henny san.....Aku adalah anggota baru di laboratorium Ekologi ini. Ini tahun pertamaku masuk laboratorium. Aku tak terlalu banyak berbicara dengan orang lain termasuk dengan Henny san. Tapi Henny san pasti selalu tersenyum padaku saat berjumpa, kapan dan dimana saja. Itu membuatku merasa bahagia menjadi bagian dari laboratorium ini. Henny san..., arigatou ne...".
Ah, aku jadi tersenyum mengingatnya...,dengan rasa syukur yang kental...
Padang, 5 Januari 2008