Akhir tahun 2008, mendadak harus ikutan perhelatan negeri di desa kelahiran kami, Koto Tangah Simalanggang. Tak tanggung-tanggung, didaulat 2 hari berpakaian adat. Hari pertama acara resmi di Gelanggang (tanah lapang) dan hari kedua naik bendi keliling negeri. Layaknya raja, seorang Datuak diacara ini harus didampingi Bundo Kanduang, dayang-dayang dan hulubalang. Begitu mendadak dan tanpa persiapan, kesulitan mencari pakaian tradisional Payakumbuh di Padang membuat Bundo Kanduang terpaksa tampil beda di hari pertama. Pada hari kedua, kudu sama dong... PR besar menunggu, belajar memahami bagaimana menjadi Datuak dan Bundo Kanduang yang diharapkan nagari ... Ganbaranaito...!
Monday, April 6, 2009
Pesta Anak Negeri Sumatera Barat: Batagak Panghulu di Simalanggang
Akhir tahun 2008, mendadak harus ikutan perhelatan negeri di desa kelahiran kami, Koto Tangah Simalanggang. Tak tanggung-tanggung, didaulat 2 hari berpakaian adat. Hari pertama acara resmi di Gelanggang (tanah lapang) dan hari kedua naik bendi keliling negeri. Layaknya raja, seorang Datuak diacara ini harus didampingi Bundo Kanduang, dayang-dayang dan hulubalang. Begitu mendadak dan tanpa persiapan, kesulitan mencari pakaian tradisional Payakumbuh di Padang membuat Bundo Kanduang terpaksa tampil beda di hari pertama. Pada hari kedua, kudu sama dong... PR besar menunggu, belajar memahami bagaimana menjadi Datuak dan Bundo Kanduang yang diharapkan nagari ... Ganbaranaito...!
Tuesday, February 3, 2009
Goresan Album Perpisahan
Perlahan kubuka kembali album kenangan dari sahabatku di
Ada pesan tak terlupakan dari Lina, Ida dan Indah, sahabatku terkasih:
......Count the garden by the FLOWERS, never by the leaf that fall.
Count your life with SMILES and not the tears that roll.....
Best Friend..Forever...
Duh, kangen banget..terutama sama Lina yang baru punya baby... Pa kabar Jeungs...?
Beberapa pesan singkat rekan-rekan lab lainnya dan seorang guru kelas bahasa Inggrisku, kukopikan disini, agar setiap saat bisa dibaca kembali;
Dear Henny, 7 years passed in instant.
I was happy to spend long time with you.
I was cheerred up by your smile.
Now, you will leave
I will miss you.
However, this is not parting but farewell.
In the future, I’d like to meet you again.
I may luck will be with you and your family always!
See you!
Daisuke Utsunomiya (S3, meneliti serangga penyerbuk)
Henny san J
Thank you for your kindness
Only a halp year, but I had a good time with you
Your smile make us cheerpul
Please keep your wonderpul smile anytime
SMILE…
Tamura Kei (S1, meneliti tentang semut)
Dear Henny
I heard you comeback your hometown
Why don’t you stay here?
I enjoyed very much when we discuss some objects in COE English Class with you
You sometimes seemed English teacher for me!
I hope you keep your shining character
That makes people happy
Sincerely yours
Shuji Tamamura (Rekan COE English Class
Dear Ms Henny
Do you remember me?
Even though I could only talk with you in simple terms, you responded brightly with a smile
I would like to thank you for your kindness
Please keep up the fantastic work
The best of health to you
Sincerely yours
Kazuya Moromoto (Rekan COE English Class
6 October 2005
Ms. Henny Herwina
Dear Henny,
Conggratulation on receiving your doctorate-what a fantastic achievement. I wish you continued success in your research.
It has been a pleasure having you in the COE English Class; your smile, your energy and your input will be missed. I am looking forward to our next meeting in
Yours, CA. Consolvo (Dosen Pengajar COE English Class
2005)
Dear Henny san,
Conggratulations!!
Good job, Good friends and good family
I like your life style
Good luck and see you again!
Uda san, Nisa chan, jumpa lagi lah!
Shinichi Tanabe, 7 Oct 2005 (Program Post Doctoral di Lab Ekologi)
Album ini merupakan hadiah termanis yang pernah kuterima.
Terimakasih sahabat.... aku belajar banyak dari goresan kalian...
Tuesday, January 6, 2009
Sebuah sms dari guru terbaik
”Hm, semua tampak terkendali,” pikirku lega. Beberapa asisten praktikumku tampak menyebar ke kelompok-kelompok kecil praktikan yang sedang mengamati lebih jauh morfologi dan anatomi hewan dengan memakai sampel katak. Mereka sibuk melayani pertanyaan antusias para mahasiswa angkatan pertama yang diwajibkan mengikuti praktikum Biologi Umum. Aku baru saja duduk ketika kudengar ada sms yang masuk.
"Hen, satu jam lagi saya sampai di Kanazawa", begitu pesan yang terbaca.
Hmm, dari pak Intan. Beliau adalah adalah seorang dosen di Laboratorium Entomologi, ketika aku mengambil program S2 di Jurusan Biologi ITB. Dosen istimewa yang selalu ada untuk mahasiswanya, khususnya member laboratorium kami ketika itu.
"Hah? Satu jam lagi? Berarti si bapak mengirim sms dari kereta api?”
Langsung terbayangkan olehku perjalanan Pak Intan dengan kereta selama 3 jam-an antara Tokyo dan Kanazawa, ke sebuah provinsi bagian tengah-sebelah utara pulau Honsyu Jepang. Kanazawa, kota provinsi yang penuh kenangan bagiku, setelah melewati 7 tahun yang tak terlupakan disana.
" Kanazawa? Waah, asyik dong pak...! Tapi, kenapa Bapak ke Kanazawa ketika henny sudah di Padang sih? Tapi nggak papa, have a nice trip yach. Jangan lupa salam kangen buat Nakamura sensei dan semua warga lab Ekologi, terutama teman-teman yang dari Indonesianya ya..., Pak Dahelmi, Indah, Ida, Rama dan Yanto yang baru datang ...", balasku penuh semangat.
Memang kebiasaanku kalau balas sms sejenis ini, mirip membalas email, segala ditulis he he. Kupencet bagian send. Dua detik menunggu, tertulis bahwa pesan telah terkirim. Kena charge berapa ya? palingan 1000 rupiah…. Klu dipikir-pikir lagi, enak benar dunia sekarang ini. Berkomunikasi antar negara cuma kena seribuan, bahkan ada program di intertnet yang membuat kita bisa ngobrol gratis, bisa saling melihat pakai kamera .hhmm Subhanallah….Alhamdulillah…
Aku kembali teringat Pak Intan yang baik. Sekian tahun telah berlalu, tapi beliau sama sekali tak berubah. Beliau tetaplah pribadi yang hangat seperti adanya beliau sejak pertama aku bertemu di gedung lama Jurusan Biologi ITB. Wajah yang tak lepas dari senyum pada siapapun yang dijumpai, dilengkapi dengan sapa berisi tanya tentang kabar dan progres yang terjalani. Menurutku, Bapakku yang satu ini memang spesial. Bersikap positif adalah stylenya, waktunya tak terbatas bagi kolega atau mahasiwa. Jika sedang sibuk, kita boleh membuat janji. Langsung menemui, atau lewat email dan sms. Perhatian sekali, dan aku banyak belajar dari proses interaksi dengan beliau.
Dulu, ketika aku di Jepang untuk mengambil S3 atas rekomendasi laboratoriumku di ITB, tiba-tiba aku dan Rully yang juga berasal dari lab yang sama di ITB, mendapat kejutan manis berupa kiriman kartu pos dari Pak Intan.
”Hallo Henny dan Rully, how have you been? Saya sedang di Belanda nih, ada...”, pesan singkat tertulis disitu.
Kartunya berwarna krem sederhana, tapi menerimanya terasa manis sekali, karena dikirim oleh seorang dosen kami yang baik dan rendah hati. Yang jika pergi kemana-mana, masih ingat pada kami, bagian kecil dari mahasiswanya yang tak terhitung jumlahnya hingga kini.
Suatu hari, ada email dari beliau untukku. Isinya pesan singkat.
" Henny, saya sedang di Tokyo, Hotel A, kamar B, besok sudah ke Chiba, telponnya ....", tulis beliau.
Maka dengan penuh semangat aku dan keluarga akan menghubungi, menanyakan kabar dan bercerita kesana kemari. Sebuah silaturahmi yang indah layaknya keluarga pun mengalir diantara kami.
”Ting ting!”
Kubuka sms, balasan dari Pak Intan.
"OK Hen, sekarang saya ke lab Fisika dulu, ke senseinya Acep, setelah itu baru ke Ekologi, ketemu Prof Nakamura-mu, besok saya sudah harus ke ...... Salamnya disampaikan, salam jg tuk keluarganya...".
Begitulah Pak Intan, dosen yang saat ini adalah Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Hayati ITB. Orang sibuk yang dipercaya sebagai Reviwer oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, ikut menangani bagian IT di kampus, mengelola perusahaan yang berhubungan dengan pertanian, dan seringnya bolak balik keluar negeri, baik karena tugas, bisnis dan prestasi.
Ketika jam praktikum habis dan aku kembali ke Jurusan, aku bicara pada Pak Dahelmi, dosenku yang tengah menempuh S3 di Kanazawa University. Kebetulan Yahoo Messengernya sedang bersatus available.
”Pak, Pak Intan sudah sampai di situ belum? Tadi beliau sms dari kereta?”
”Sudah tadi, sekarang lagi ke Fisika, nanti malam kita ke Tenggo (nama restoran), diundang sensei bersama mahasiwa yang dari Indonesia juga. Oh ya, kok Pak Intan tau henny habis dari India?
”He he, biasalah Pak, Pak Intan kan senang kalau bekas mahasiswanya maju...”, balasku.
”Nih ada foto kita tadi sama pak Intan, accept ya”
”OK, arigatou”
Beberapa detik kemudian aku sudah bisa mensave file foto yang dimaksud di komputerku. Ketika kubuka filenya, Pak Dahelmi, Indah, Rama dan Ida tengah berdiri, berpose bersama Pak Intan yang duduk pada sebuah kursi dibagian tengah. Semua memakai pakaian musim dingin, mengingatkannku pada suasana akhir tahun di Kanazawa yang terkenal dengan saljunya yang lebat. Mereka semua tersenyum. Dan ketika kuperhatikan Pak Intan, beliau tak berubah dari 10 tahun yang lalu ketika pertama kali aku meminta tanda tangan untuk Kartu Rencana Studiku di ITB, tampak muda diusianya yang hampir setengah abad. Dan sudut tempat berfotonya...., hah.....? Itukan jendela tempat aku menghabiskan waktu paling banyak ketika di laboratorium itu? Didekat komputer umum yang aku dominasi pemakaiannya untuk mengolah data disertasiku. Dan, dibelakangnya? Itu...kan...? jembatan yang harus kulewati kalau ke kafeteria? Dan kursi yang diduduki pak Intan, aku yakin, itu dulu kursi yang diduduki Tokunaga san, kolega se laboratorium yang hobi mengoleksi model hp terbaru. Yang kabarnya sekarang sudah berhasil jadi guru, setelah 3 kali ujian nasional, hm...
Aku jadi bernostalgia kembali tentang suka dukaku menuntut ilmu dan menjalani kehidupan berkeluarga di negeri Sakura.
”Arigatou gozaimasu Pak Intan..., semoga Allah selalu memberkati Bapak..."
Padang, 7 Januari 2008
Dengan sepenuh rasa terima kasih dari seorang murid
Monday, January 5, 2009
Dosen Dengan Senyum Paling Menawan
"Selamat ya kak!", suara ceria Ai, mahasiswi jurusan Farmasi yang aktif di ESQ Sumbar itu menghentikan lamunanku di suatu subuh yang dingin pada bulan Februari 2008. Saat itu kami sedang antri untuk memakai kamar mandi di rumah gadang tempat kami menginap di Minang Village Padang Panjang. Wajah kami masih dibalut kantuk, setelah tadi malam mengadakan acara Pelepasan Dosen Purnabakti, dan kuliah lapangan umum Jurusan Biologi UNAND di panggung terbuka, Medan Nan Bapaneh. Sehabis menyelesaikan tugas sebagai MC, aku memang langsung membawa putriku Jilannisa yang telah tertidur di pangkuan Pak Johanes Allen ke rumah gadang tempat penginapan dosen dan alumni, lalu merebahkannya di atas dipan berkelambu tradisional yang terdapat di salah satu kamarnya. Ternyata aku telah ikut pulas tertidur hingga subuh, sehingga tak sempat mengikuti berbagai acara keakraban dan hiburan dari mahasiswa-alumni setelahnya.
"Selamat kenapa Ai..? Kamu datang sama siapa? Kok bisa nyasar kesini?", kataku terheran-heran dengan kehadiran anak Farmasi di acara Jurusan Biologi, walaupun dua jurusan ini memang terbiasa bergabung untuk urusan kuliah lapangan pada mata kuliah tertentu, seperti morfologi atau taksonomi tumbuhan.
"Sama Pak Dayar dan lain-lain kak...", terangnya menyebutkan nama profesor senior UNAND, pakar farmasi yang memang sangat akrab dengan semua orang, apalagi beberapa dosen biologi yang memasuki masa pensiun sekarang ini adalah sahabat dekat beliau.
"O...., pantes..., trus, kakak diselamatin kenapa tadi?"
"Kakak kan terpilih sebagai nominator dosen berpakaian termodis dan terpilih sebagai dosen dengan senyuman paling menawan di jurusan biologi...", Ai menggodaku dengan tersenyum penuh arti.
" Hah?, kenapa? kok bisa? eh?...tapi....makasih infonya ya....., kakak duluan ya....!" kataku tak sempat berpikir lagi karena harus segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwuduk. Antrian dibelakang kami masih panjang....
Siangnya, para mahasiswa yang kutemui saat akan mengambil sampel di lapangan juga memberiku ucapan selamat.
"Selamat ya Bu, Ibu mendapat hadiah bunga...", begitu kata mereka, walaupun sampai hari ini bunga itu tak pernah sampai ketanganku.
Anehnya pernyataan Ai di Minang Village masih terlintas dibenakku. Kalau aku jadi nominator dosen berpakaian termodis dan hanya terpilih sebagai termodis kedua karena dosen berpakaian termodis satu adalah Bu Zozy yang terbiasa tampil rapi dan maskulin dengan stelan baju kerja dan celana panjang yang apik, masih masuk akal bagiku. Aku malah bersyukur walau hanya menjadi nominator, karena penampilanku khasku dengan gamis dan jilbab panjang termasuk dikategorikan modis oleh para mahasiswaku. Artinya, usahaku untuk berpakaian Islami seperti yang dianjurkan telah pula menjadi pilihan sebagian dari mereka.
"Alhamdulillah, ini pertanda baik, semoga suatu hari nanti, berpakaian Islami menjadi pilihan utama para mahasiswiku....", bathinku.
Yang menjadi ganjalan dihati adalah bahwa aku terpilih sebagai "dosen dengan senyum paling menawan?". Aku menjadi bertanya-tanya, kenapa bisa para mahasiswa dari berbagai angkatan telah memberiku predikat demikian? Walaupun ini hasil angket khusus untuk acara tersebut saja, hasilnya membuatku tak habis pikir dan cendrung merasa cemas. Apakah aku telah tanpa sengaja menyebar senyum menawan kepada mahasiswaku sehingga...terlihat.... me-na-wan dimata mereka? Kalau demikian.... Astagfirullah... betapa aku takut akan murkamu ya Allah... Tiada maksudku seperti itu... Segala kebimbangan dengan konsekwensi dari profesiku sebagai dosen wanita bermunculan di kepalaku. Berbagai pro dan kontra pendapat tentang wanita bekerja menurut pandangan Islam dan segala resikonya kembali berputar dalam pikiranku.
Sampai beberapa hari kemudian, Arfellina, asistenku di Paraktikum Taksonomi Hewan Invertebrata memberikan penjelasan atas pertanyaanku.
"Ibu..., senyum yang menawan bagi kami itu, maksudnya adalah...bahwa senyum yang Ibu berikan pada kami .... begitu tulus...." jelasnya dengan tatapan dan ekspresi penuh rasa hormat dan sayang.
"Alhamdulillah..., jika demikian maksudnya..., terimakasih Felli", jawabku dengan rasa haru.
Terimakasih ya Allah, kalau ketulusanlah yang terbaca oleh para mahasiswaku. Senyum, terkadang tak kusadari telah hadir begitu saja ketika berjumpa dengan orang-orang disekitarku. Hanya kepadaMu aku berlindung dari kebinasaan...karena sikap dan perilaku-ku...
Perlahan, aku kembali teringat dengan komentar perpisahan dari salah seorang rekan satu laboratorium di Kanazawa Jepang di penghujung 2005, yang kemudian ditulisnya dalam album kumpulan pesan yang dilengkapi foto-foto rekan satu lab sebagai kenang-kenangan bagiku sebelum pulang ke Indonesia. Album istimewa yang selalu akan membuatku didera rasa haru jika membuka dan membaca komentar-komentar mereka...
"Hallo Henny san.....Aku adalah anggota baru di laboratorium Ekologi ini. Ini tahun pertamaku masuk laboratorium. Aku tak terlalu banyak berbicara dengan orang lain termasuk dengan Henny san. Tapi Henny san pasti selalu tersenyum padaku saat berjumpa, kapan dan dimana saja. Itu membuatku merasa bahagia menjadi bagian dari laboratorium ini. Henny san..., arigatou ne...".
Ah, aku jadi tersenyum mengingatnya...,dengan rasa syukur yang kental...
Padang, 5 Januari 2008
Tuesday, November 25, 2008
Monday, November 24, 2008
Ustad Abu
Pada suatu siang di Bulan Juli, Ustad Abu Bakar Baasyir berkenan memberikan pemaparan keIslaman di Kota Padang, di Mesjid Nurul Iman. "Keyakinan kita yang mendalam pada Kekuasaan dan Keesaan Allah adalah senjata yang paling ditakuti kaum Kafir, lebih dari aneka senjata canggih dan moderen yang mereka punyai...", demikian ustad Abu...
Wednesday, July 23, 2008
Pipiet Senja
"Jangan ragu....Ini saatnya membuktikan dirimu sebagai penulis handal Dek, tidak sembarang orang hlo, tulisannya dapat terpilih dalam curahan hati pasutri antar benua! Semangat!" tulisnya menggebu lewat sms.
Begitulah caranya Teteh mengembalikan semangat yang mengendur untuk melanjutkan saja acara launching buku Persembahan Cinta di Padang, walaupun beliau berhalangan menghadiri. Jadilah acara tetap berjalan dalam bentuk Soft Launching, dan Alhambulillah membawa serta buku Getar Asa Negeri Sakura (Kumpulan Kisah Mengandung Hikmah karya FLP Jepang) untuk dibedah dengan sukses. Pengalaman berharga yang mungkin tak akan pernah dirasa tanpa dorongan dan teror semangatnya Teteh.
Seringnya hanya berdikusi dan bicara lewat alam maya dan sms, alangkah bahagianya ketika dapat bertemu langsung dan memeluk wanita istimewa ini dalam sebuah acara beliau bersama para wanita penulis indonesia di Sumatera Barat beberapa waktu lalu.