Tuesday, January 6, 2009

Sebuah sms dari guru terbaik

”Hm, semua tampak terkendali,” pikirku lega. Beberapa asisten praktikumku tampak menyebar ke kelompok-kelompok kecil praktikan yang sedang mengamati lebih jauh morfologi dan anatomi hewan dengan memakai sampel katak.  Mereka sibuk melayani pertanyaan antusias para mahasiswa angkatan pertama yang diwajibkan mengikuti praktikum Biologi Umum. Aku baru saja duduk ketika kudengar ada sms yang masuk.

"Hen, satu jam lagi saya sampai di Kanazawa", begitu pesan yang terbaca.

Hmm, dari pak Intan. Beliau adalah adalah seorang dosen di Laboratorium Entomologi, ketika aku mengambil program S2 di Jurusan Biologi ITB. Dosen istimewa yang selalu ada untuk mahasiswanya, khususnya member laboratorium kami ketika itu.

"Hah? Satu jam lagi? Berarti si bapak mengirim sms dari kereta api?

Langsung terbayangkan olehku perjalanan Pak Intan dengan kereta selama 3 jam-an antara Tokyo dan Kanazawa, ke sebuah provinsi bagian tengah-sebelah utara pulau Honsyu Jepang. Kanazawa, kota provinsi yang penuh kenangan bagiku, setelah melewati 7 tahun yang tak terlupakan disana.

" Kanazawa? Waah, asyik dong pak...! Tapi, kenapa Bapak ke Kanazawa ketika henny sudah di Padang sih? Tapi nggak papa, have a nice trip yach. Jangan lupa salam kangen buat Nakamura sensei dan semua warga lab Ekologi, terutama teman-teman yang dari Indonesianya ya...,  Pak Dahelmi, Indah, Ida, Rama dan Yanto yang baru datang ...", balasku penuh semangat.

Memang kebiasaanku kalau balas sms sejenis ini, mirip membalas email, segala ditulis he he. Kupencet bagian send. Dua detik menunggu, tertulis bahwa pesan telah terkirim. Kena charge berapa ya? palingan 1000 rupiah…. Klu dipikir-pikir lagi, enak benar dunia sekarang ini. Berkomunikasi antar negara cuma kena seribuan, bahkan ada program di intertnet yang membuat kita bisa ngobrol gratis, bisa saling melihat pakai kamera .hhmm Subhanallah….Alhamdulillah…

Aku kembali teringat Pak Intan yang baik. Sekian tahun telah berlalu, tapi beliau sama sekali tak berubah. Beliau tetaplah pribadi yang hangat seperti adanya beliau sejak pertama aku bertemu di gedung lama Jurusan Biologi ITB. Wajah yang tak lepas dari senyum pada siapapun yang dijumpai, dilengkapi dengan sapa berisi tanya tentang kabar dan progres yang terjalani. Menurutku, Bapakku yang satu ini memang spesial. Bersikap positif adalah stylenya, waktunya tak terbatas bagi kolega atau mahasiwa. Jika sedang sibuk, kita boleh membuat janji. Langsung menemui, atau lewat email dan sms. Perhatian sekali, dan aku banyak belajar dari proses interaksi dengan beliau.

Dulu, ketika aku di Jepang untuk mengambil S3 atas rekomendasi laboratoriumku di ITB, tiba-tiba aku dan Rully yang juga berasal dari lab yang sama di ITB, mendapat kejutan manis berupa  kiriman kartu pos dari Pak Intan.

”Hallo Henny dan Rully, how have you been? Saya sedang di Belanda nih, ada...”, pesan singkat tertulis disitu.

Kartunya berwarna krem sederhana, tapi menerimanya terasa manis sekali, karena dikirim oleh seorang  dosen kami yang baik dan rendah hati. Yang jika pergi kemana-mana, masih ingat pada kami, bagian kecil dari mahasiswanya yang tak terhitung jumlahnya hingga kini.

Suatu hari, ada email dari beliau untukku. Isinya pesan singkat.

" Henny, saya sedang di Tokyo, Hotel A, kamar B, besok sudah ke Chiba, telponnya ....", tulis beliau.

Maka dengan penuh semangat aku dan keluarga akan menghubungi, menanyakan kabar dan bercerita kesana kemari. Sebuah silaturahmi yang indah layaknya keluarga pun mengalir diantara kami.

 

”Ting ting!”

Kubuka sms, balasan dari Pak Intan.

"OK Hen, sekarang saya ke lab Fisika dulu, ke senseinya Acep, setelah itu baru ke Ekologi, ketemu Prof Nakamura-mu, besok saya sudah harus ke ...... Salamnya disampaikan, salam jg tuk keluarganya...".

Begitulah Pak Intan, dosen yang saat ini adalah Dekan Sekolah Tinggi Ilmu Hayati ITB. Orang sibuk yang dipercaya sebagai Reviwer oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, ikut menangani bagian IT di kampus, mengelola perusahaan yang berhubungan dengan pertanian, dan seringnya bolak balik keluar negeri, baik karena tugas, bisnis dan prestasi.

Ketika jam praktikum habis dan aku kembali ke Jurusan, aku bicara pada Pak Dahelmi, dosenku yang tengah menempuh S3 di Kanazawa University. Kebetulan Yahoo Messengernya sedang bersatus available.

”Pak, Pak Intan sudah sampai di situ belum? Tadi beliau sms dari kereta?”

”Sudah tadi, sekarang lagi ke Fisika, nanti malam kita ke Tenggo (nama restoran), diundang sensei bersama mahasiwa yang dari Indonesia juga. Oh ya, kok Pak Intan tau henny habis dari India?

”He he, biasalah Pak, Pak Intan kan senang kalau bekas mahasiswanya maju...”, balasku.

”Nih ada foto kita tadi sama pak Intan, accept ya”

”OK, arigatou

Beberapa detik kemudian aku sudah bisa mensave file foto yang dimaksud di komputerku. Ketika kubuka filenya, Pak Dahelmi, Indah, Rama dan Ida tengah berdiri, berpose bersama Pak Intan yang duduk pada sebuah kursi dibagian tengah. Semua memakai pakaian musim dingin, mengingatkannku pada suasana akhir tahun di Kanazawa yang terkenal dengan saljunya yang lebat. Mereka semua tersenyum. Dan ketika kuperhatikan Pak Intan, beliau tak berubah dari 10 tahun yang lalu ketika pertama kali aku meminta tanda tangan untuk Kartu Rencana Studiku di ITB, tampak muda diusianya yang hampir setengah abad. Dan sudut tempat berfotonya...., hah.....? Itukan jendela tempat aku menghabiskan waktu paling banyak ketika di laboratorium itu? Didekat komputer umum yang aku dominasi pemakaiannya untuk mengolah data disertasiku.  Dan, dibelakangnya? Itu...kan...? jembatan yang harus kulewati kalau ke kafeteria? Dan kursi yang diduduki pak Intan, aku yakin, itu dulu kursi yang diduduki Tokunaga san, kolega se laboratorium yang hobi mengoleksi model hp terbaru. Yang kabarnya sekarang sudah berhasil jadi guru, setelah 3 kali ujian nasional, hm...

Aku jadi bernostalgia kembali tentang suka dukaku menuntut ilmu dan menjalani kehidupan berkeluarga di negeri Sakura.

”Arigatou gozaimasu Pak Intan..., semoga Allah selalu memberkati Bapak..."

Padang, 7 Januari 2008

Dengan sepenuh rasa terima kasih dari seorang murid

Monday, January 5, 2009

Dosen Dengan Senyum Paling Menawan

"Selamat ya kak!", suara ceria Ai, mahasiswi jurusan Farmasi yang aktif di ESQ Sumbar  itu menghentikan lamunanku di suatu subuh yang dingin pada bulan Februari 2008. Saat itu kami sedang antri untuk memakai kamar mandi di rumah gadang tempat kami menginap di Minang Village Padang Panjang. Wajah kami masih dibalut kantuk, setelah tadi malam mengadakan acara Pelepasan Dosen Purnabakti, dan kuliah lapangan umum Jurusan Biologi UNAND di panggung terbuka, Medan Nan Bapaneh. Sehabis menyelesaikan tugas sebagai MC, aku memang langsung membawa putriku Jilannisa yang telah tertidur di pangkuan Pak Johanes Allen ke rumah gadang tempat penginapan dosen dan alumni, lalu merebahkannya di atas dipan berkelambu tradisional yang terdapat di salah satu kamarnya. Ternyata aku telah ikut pulas tertidur hingga subuh, sehingga tak sempat mengikuti berbagai acara keakraban dan hiburan dari mahasiswa-alumni setelahnya.

"Selamat kenapa Ai..? Kamu datang sama siapa? Kok bisa nyasar kesini?", kataku terheran-heran dengan kehadiran anak Farmasi di acara Jurusan Biologi, walaupun dua jurusan ini memang terbiasa bergabung untuk urusan kuliah lapangan pada mata kuliah tertentu, seperti morfologi atau taksonomi tumbuhan.

"Sama Pak Dayar dan lain-lain kak...", terangnya menyebutkan nama profesor senior UNAND, pakar farmasi yang memang sangat akrab dengan semua orang, apalagi beberapa dosen biologi yang memasuki masa pensiun sekarang ini adalah sahabat dekat beliau.

"O...., pantes...,  trus, kakak diselamatin kenapa tadi?"

"Kakak kan terpilih sebagai nominator dosen berpakaian termodis dan terpilih sebagai dosen dengan senyuman paling menawan di jurusan biologi...", Ai menggodaku dengan tersenyum penuh arti.

" Hah?, kenapa? kok bisa? eh?...tapi....makasih infonya ya....., kakak duluan ya....!" kataku tak sempat berpikir lagi karena harus segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berwuduk. Antrian dibelakang kami masih panjang....

Siangnya, para mahasiswa yang kutemui saat akan mengambil sampel di lapangan juga memberiku ucapan selamat.

"Selamat ya Bu, Ibu mendapat hadiah bunga...", begitu kata mereka, walaupun sampai hari ini bunga itu tak pernah sampai ketanganku.

Anehnya pernyataan Ai di Minang Village masih terlintas dibenakku. Kalau aku jadi nominator dosen berpakaian termodis dan hanya terpilih sebagai termodis kedua karena dosen berpakaian termodis satu adalah Bu Zozy yang terbiasa tampil rapi dan maskulin dengan stelan baju kerja dan celana panjang yang apik, masih masuk akal bagiku. Aku malah bersyukur walau hanya menjadi nominator, karena penampilanku khasku dengan gamis dan jilbab panjang termasuk dikategorikan modis oleh para mahasiswaku. Artinya, usahaku untuk berpakaian Islami seperti yang dianjurkan telah pula menjadi pilihan sebagian dari mereka.

"Alhamdulillah, ini pertanda baik, semoga suatu hari nanti, berpakaian Islami menjadi pilihan utama para mahasiswiku....", bathinku.

Yang menjadi ganjalan dihati adalah bahwa aku terpilih sebagai "dosen dengan senyum paling menawan?". Aku menjadi bertanya-tanya, kenapa bisa para mahasiswa dari berbagai angkatan telah memberiku predikat demikian? Walaupun ini hasil angket khusus untuk acara tersebut saja, hasilnya membuatku tak habis pikir dan cendrung merasa cemas. Apakah aku telah tanpa sengaja menyebar senyum menawan kepada mahasiswaku sehingga...terlihat.... me-na-wan dimata mereka? Kalau demikian.... Astagfirullah... betapa aku takut akan murkamu ya Allah... Tiada maksudku seperti itu... Segala kebimbangan dengan konsekwensi dari profesiku sebagai dosen wanita bermunculan di kepalaku. Berbagai pro dan kontra pendapat tentang wanita bekerja menurut pandangan Islam dan segala resikonya kembali berputar dalam pikiranku.

Sampai beberapa hari kemudian,  Arfellina, asistenku di Paraktikum Taksonomi Hewan Invertebrata memberikan penjelasan atas pertanyaanku.

"Ibu..., senyum yang menawan bagi kami itu, maksudnya adalah...bahwa senyum yang Ibu berikan pada kami .... begitu tulus...." jelasnya dengan tatapan dan ekspresi penuh rasa hormat dan sayang.

"Alhamdulillah..., jika demikian maksudnya..., terimakasih Felli", jawabku dengan rasa haru.

Terimakasih ya Allah, kalau ketulusanlah yang terbaca oleh para mahasiswaku. Senyum, terkadang tak kusadari telah hadir begitu saja ketika berjumpa dengan orang-orang disekitarku. Hanya kepadaMu aku berlindung dari kebinasaan...karena sikap dan perilaku-ku...

Perlahan, aku kembali teringat dengan komentar perpisahan dari salah seorang rekan satu laboratorium di Kanazawa Jepang di penghujung 2005, yang kemudian ditulisnya dalam album kumpulan pesan yang dilengkapi foto-foto rekan satu lab sebagai kenang-kenangan bagiku sebelum pulang ke Indonesia. Album istimewa yang selalu akan membuatku didera rasa haru jika membuka dan membaca komentar-komentar mereka...

"Hallo Henny san.....Aku adalah anggota baru di laboratorium Ekologi ini. Ini tahun pertamaku masuk laboratorium. Aku tak terlalu banyak berbicara dengan orang lain termasuk dengan Henny san. Tapi Henny san pasti selalu tersenyum padaku saat berjumpa, kapan dan dimana saja. Itu membuatku merasa bahagia menjadi bagian dari laboratorium ini. Henny san..., arigatou ne...".

Ah, aku jadi tersenyum mengingatnya...,dengan rasa syukur yang kental...

Padang, 5 Januari 2008

 

 

Tuesday, November 25, 2008

Monday, November 24, 2008

Ustad Abu




Pada suatu siang di Bulan Juli, Ustad Abu Bakar Baasyir berkenan memberikan pemaparan keIslaman di Kota Padang, di Mesjid Nurul Iman. "Keyakinan kita yang mendalam pada Kekuasaan dan Keesaan Allah adalah senjata yang paling ditakuti kaum Kafir, lebih dari aneka senjata canggih dan moderen yang mereka punyai...", demikian ustad Abu...

Wednesday, July 23, 2008

Pipiet Senja




"Jangan ragu....Ini saatnya membuktikan dirimu sebagai penulis handal Dek, tidak sembarang orang hlo, tulisannya dapat terpilih dalam curahan hati pasutri antar benua! Semangat!" tulisnya menggebu lewat sms.

Begitulah caranya Teteh mengembalikan semangat yang mengendur untuk melanjutkan saja acara launching buku Persembahan Cinta di Padang, walaupun beliau berhalangan menghadiri. Jadilah acara tetap berjalan dalam bentuk Soft Launching, dan Alhambulillah membawa serta buku Getar Asa Negeri Sakura (Kumpulan Kisah Mengandung Hikmah karya FLP Jepang) untuk dibedah dengan sukses. Pengalaman berharga yang mungkin tak akan pernah dirasa tanpa dorongan dan teror semangatnya Teteh.

Seringnya hanya berdikusi dan bicara lewat alam maya dan sms, alangkah bahagianya ketika dapat bertemu langsung dan memeluk wanita istimewa ini dalam sebuah acara beliau bersama para wanita penulis indonesia di Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Friday, May 23, 2008

Resensi GANS di Tabloid GENTA ANDALAS

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author: e_abi, GENTA ANDALAS
Siang itu ruang shalat jurusan Biologi FMIPA UNAND bagian wanitanya amat penuh. Melihat ruang shalat pria sedang sepi dan tak berpenghuni seorangpun, aku tergoda untuk melangkah kesana. Walau dihati terniat untuk shalat disana saja, masih terhalang oleh rasa ragu akan nasibku jika para pria berdatangan. Karena ruangan tak begitu besar, kehadiranku yang melanggar aturan tentu hanya akan membuat kekacauan. Sekalipun alasannya untuk shalat he he.

Sekilas, aku melihat sebuah tabloid di atas sajadah yang kosong. Setelah kuraih dan sedikit dibolak-balik, mataku menemukan gambar buku Getar Asa Negeri Sakura (GANS), di buletin mahasiswa itu. Suatu kebetulan? Hm, Alhamdulillah lebih patut kulafazkan di hati.

Apapun alasannya, yang pasti aku berubah menjadi mensyukuri ruang shalat wanita yang penuh dan kakiku yang tak sengaja telah melangkah ke ruang shalat pria ini, yang mengantarkan aku pada resensi GANS yang telah lama kutunggu-tunggu. Waah, apa ya komentar mahasiswa UNAND tentang buku pertama FLP JEPANG dimana aku banyak mengenal dunia kepenulisan ini ? Baca sama-sama yuuk...

Resensi GANS di Tabloid GENTA ANDALAS, Edisi XXIX, Mei 2008

Judul Buku : Getar Asa Negeri Sakura
Penulis : FLP Jepang
Penerbit : Lini Zikrul Remaja
Tebal : 176 halaman


KEINDAHAN CINTA MUSLIM SAKURA

Keteguhan iman, cinta dan kasih sayang. Mungkin itulah kalimat yang tepat dilontarkan bagi umat muslim di negeri sakura, beribadah di negeri orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa itu merupakan ujian yang cukup berat. Belum lagi banyaknya informasi dari berbagai media yang menyudutkan Islam, menimbulkan tantangan tersendiri bagi mereka untuk tetap pempertahankan akidahnya. Dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT, mereka berusaha untuk mengenalkan Islam kepada masyarakat yang mayoritas non-muslim.

Buku yang ditulis FLP Jepang ini mengisahkan kehidupan umat muslim di Jepang. Walaupun perbedaan agama begitu kental,mereka berupaya untuk saling menghargai satu sama lain. Ini merupakan suatu bukti keharmonisan hidup mereka. Kehidupan ekonomi yang pas-pasan tidak membuat mereka berpaling ke jalan yang lain. Justru pahitnya kehidupan memperkuat iman mereka. Getirnya kehidupan di negeri orang dilewati dengan kesabaran. Bahkan, ajaran Islam tidak luntur oleh derasnya godaan yang selalu menerpa dalam menapaki kehidupan setiap harinya. Kemandirian dan istiqomah umat muslim disana mencerminkan kepribadian Islam yang sesungguhnya.

Kalimat yang dirangkai begitu lugas mampu membawa pembaca merasakan apa yang mereka rasakan. Hanyut dalam tiap lembaran kisah hidup yang dapat dijadikan teladan dalam menjalani hidup. Kisah hidup yang penuh cinta, kasih sayang, mandiri, dan kesabaran memberikan aspirasi dan semangat baru bagi yang membacanya. Selain itu, pembaca juga deperkenalkan dengan budaya Jepang yang dikenal dengan istilah kairetsu yang mendeskripsikan kemandirian, keuletan, dan tingginya sikap saling menghargai yang dimiliki oleh penduduk Jepang.

Alur cerita disertai dengan beberapa istilah Jepang yang umum digunakan. Selain memetik hikmah dari kehidupan muslim disana, kita juga diajak berbahasa Jepang. Di akhir halaman juga diselipkan tips-tips ”how to get scholarship from Japanese foundation”. Banyak manfaat yang dapat kita rasakan. Bak kata pepatah “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”.

--------
Alhamdulillah, setelah bertanya sana-sini, pihak perpustakaan yang punya beberapa eksemplar berbaik hati menghadiahkan tabloidnya untukku. Sayang, aku tetap belum berhasil menemukan nomor telepon redaksinya. Padahal ingin sekali sekedar berterima kasih dan menanyakan nama asli peresensinya. Terima kasih Genta Andalas, semoga menjadi pahala..Amin...

Monday, May 19, 2008

Hingga Silaturahmi Terjalin Indah (GANS di Hati Pembacanya (3))

Setelah mendengarkan bedah GANS yang memukau dan mendapat hadiah puisi dari Prof Satni Eka Putra yang membuatku takjub serta tak henti-hentinya bersyukur, sesi kedua acara Bedah GANS pada acara Pesta Buku dan Pendidikan Minangkabau kembali dilanjutkan dengan mempersilahkan hadirin yang ingin bertanya atau berkomentar.

 

Randi Wahyudi dari FLP Sumbar minta diberi gambaran cara menerbitkan tulisan menjadi buku dan penjelasan tentang alasan penolakan GANS sebelumnya oleh penerbit berbeda. Fitri, gadis manis dari Fakultas Ekonomi UNAND, ingin dijelaskan lebih jauh mengenai tips and trick mendapatkan beasiswa ke Jepang. Melisa Fitri dari Jurusan Bahasa Jepang Universitas Bung Hata Padang, menjadi penanya terakhir dalam acara Bedah GANS. Hampir sama dengan komentar sebelumnya, walau kuliah di Sastra Jepang, ia merasa sangat sedikit mendapat informasi tentang kehidupan di Jepang yang lebih spesifik seperti pada GANS. Gadis berkerudung ini  ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana perjuangan sebagai muslimah di Jepang. 

 

Acara bedah buku GANS diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari Zikrul Hakim kepada moderator dan pembicara. Masing-masing mendapatkan bingkisan bermotif mawar merah dari Pak Joni sebelum kembali membaur dengan semua hadirin. Sekali lagi aku dipanggil MC ke panggung, kali ini untuk Soft Launching buku Persembahan Cinta, mewakili para penulis dan penyuntingnya Teh Pipiet Senja. Secara singkat kujelaskan gambaran tentang buku tersebut, kumpulan curhat pasangan suami istri yang penuh dengan cinta dan pengertian mendalam tentang pasangan hidup. Buku ini dipersembahkan oleh 30 penulis dari berbagai negara (antara lain dari Perancis, Mesir, Singapura dan Indonesia). Dua orang penulis FLP Jepang juga terlibat didalamnya, yaitu aku sendiri dan Mba Aan Wulandari, PJ Sakura Project 1 FLP Jepang. Pak Joni kemudian melanjutkan dengan Launching buku Ungu Pernikahan, yang disunting oleh Pipiet Senja, Titi Said dkk.

 

Sesaat setelah mempersilahkan kami turun panggung,  MC mengumumkan pemenang doorprize yang berhak mendapatkankan buku GANS secara gratis dari Zikrul. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum mencapai tempat duduk, aku dicegat oleh para pembeli buku GANS yang sedemikian rupa telah membentuk antrian untuk meminta tanda tanganku sebagai perwakilan penulis di GANS. Aku dipersilahkan duduk di kursi panitia disamping panggung dengan sebuah pena yang telah disiapkan kru Zikrul. Aku membayangkan tugas seperti ini tentu telah dilakukan berkali-kali oleh para penulis profesional seperti Teh Pipiet Senja atau Mbak Helvy Tiana Rosa, serta berderet nama beken lainnya. Hla, aku?

 

Antara percaya dan tidak dengan kenyataan di depan mata, aku telah duduk dan menyapa ramah para pembeli GANS, berterima kasih dan berusaha memikirkan pesan terbaik yang bisa kukarang saat itu. Seharusnya menulis apa ya diatas tanda tanganku? Benar-benar aku tak mempersiapkan diri untuk episode setelah bedah buku seperti ini. Kepikiran pun tidak pernah. Apa boleh buat. Dengan semangat mewakili rekan penulis lainnya di GANS dan harus profesional, kugoreskan pena diatas lembaran buku yang telah dibuka oleh setiap pemilik barunya didepanku.

 

”Arigatou.... Sensei, itsuka... sodang shitemo yoroshi desuka?” tanya  Ibu Nanda, guru bahasa Jepang disalah satu SMU terkenal kota Padang.

 

”Ibu, minta tanda tangannya ya...? Itu..... artinya apa Bu? tanya seorang siswa SMA yang jadi agak bingung ketika kugores bukunya dengan hiragana.

 

”Cari sendiri ya ..he he”, godaku.

 

”Uni..selamat ya...., kalau Uni diundang ke Bengkulu, bersedia bukan?” tiba-tiba seorang pemuda bertanya padaku sambil menyodorkan dua buah GANS.

 

Aku menatapnya sambil memutar otak, rasanya belum pernah melihat pemuda itu.

 

”Ini rekan kita Elzam, ketua FLP Bengkulu Buk..”, jelas Fauzul, sekjen FLP Sumbar yang mendampinginya.

 

” Oooo.....?, oh ya!, tadi pagi Fauzul sempat bilang lewat sms ya..? Terima kasih sudah datang diacara kita Elzam! Jadi semacam ajang silaturahmi FLP nih ya.....he he !, InsyaAllah jika waktunya bisa disesuaikan, dengan senang hati...”, aku menjawab ramah sambil terus berfikir.

Kenapa gerangan aku ingin diundang oleh ketua FLP Bengkulu? Hm..., tentulah untuk bersilaturahmi sambil sharing pengalaman? Tapi bagaimana mengatur waktu dengan setumpuk pekerjaan dikampus? Hm....

 

”Selamat ya Buk...?” Fauzul , mahasiswa ekonomi yang baru kukenal di FLP Sumbar bulan lalu itu tersenyum senang.

 

Fauzul telah membantuku mencari tokoh yang bersedia menjadi pembedah buku GANS, yang mengirimkan file puisi untuk acara selingan dan pembuka. Fauzul juga yang datang paling awal untuk persiapan di lokasi acara. Fauzul dan rekan-rekannya, aku banyak berhutang budi pada mereka.

 

”Berkat kerjasama kita semua Fauzul, Alhamdulillah...., Makasih banyak ya....”, aku benar-benar beruntung dipertemukan dengannya.

 

Setelah memberikan ”goresan sakti dari negeri sakura” di halaman pertama beberapa buku GANS lainnya, Elzam dan seorang temannya yang juga dari Bengkulu meminta kesediaanku untuk berfoto bersama. Didampingi para pengurus dan anggota FLP Sumbar, kamipun berbaris rapi untuk dijepret. Yah, dokumentasi foto begini juga perlu sekali, apalagi untuk laporanku ke Jepang nanti he he....(kameraku? Oh...ia telah tiba-tiba rusak sesaat sebelum acara dimulai… hiks).

 

”Mbaaak...., buku aku juga ditanda tangani doong...!” Rina, gadis PR panitia pesta buku yang spesial datang dari Jakarta inipun ternyata tak mau ketinggalan, berteriak sambil sibuk berbenah untuk acara berikutnya, Bedah Buku Aisyah dilokasi yang sama.

 

”Iya saaay..., untukmu special, bukunya khusus dari aku aja ya...! kerja dulu sana!” balasku sambil melambai padanya.

 

Malamnya, saat kuceritakan melalui sms mengenai jalannya acara pada Teh Pipiet Senja yang merupakan penyunting akhir GANS dan berterima kasih atas kesempatan yang telah beliau berikan sehingga aku mendapatkan berbagai pengalaman berharga, seperti biasa Teh Pipiet membalas smsku dengan ceria:

 

”He he he,  daku ikut bahagia dinda! Ternyata nikmat ya jadi penulis?" balasnya. 

 

(bersambung)